Sajak terjemahan : Setiap Satunya Berqasidah Mei 25, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.add a comment
Penulis telah menelusuri Laman saifulislam.com, lalu bertemu sajak Each One Sing – dari seorang responden yang telah memberi reaksi kepada salah satu artikel yang ada di situ. Penulis tertarik dengan makna puisi ini –yang sebenarnya interteks makna dari Surah al-Israa ayat 44 : Setiap sesuatu bertasbih memuji Allah tanpa henti di alam ini melainkan Manusia dan jin- lalu menerjemahkannya seadanya.
Penulis akur pada proses penterjemahan yang selalu menuntut akan adanya berapa hal yang harus dikorbankan. Pendirian penulis, makna terasnya harus kekal meski terpaksa menghilangkan lagu asli puisinya. Pada sebahagian rima tersusun yang hilang penulis mengganti dengan teknik enjembermen- suatu teknik yang biasa digunakan oleh YB Dato’ Ariffin Arif dan ramai lagi dalam sajak-sajak mereka. Mudah-mudahan yang kurang arif BI bisa menikmati makna puisi itu dalam Bahasa Melayu. Seadanya.
Wallahualam
Rujuk silang :
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil dalam Agenda 2008: Apa Erti Saya Menganut Islam ( lihat pemberi respon ke-14 ) http://saifulislam.com/?p=1216
Setiap Satunya Berqasidah
( diterjemahkan oleh Ismi’ Nailofar )
Setiap satunya berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri…
Dari sesayap lalat
ke jejalur sinar suria
setiap satu berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri
Semuanya akur Engkaulah Yang Maha Esa
Sebuah mata air memancut dari tubuh bonda buat menyusui anakandanya
Dari satu biji benih tunggal maka membesar menjadi sepohon pokok
Lihatlah apa yang terjadi padanya sambil ia menghidu tenaga hayat yang meletakkan larian nafas di peparu kita
Kaulihat sang lebah
mempertahankan sarangnya sungguhpun mati sesudah menyengat
di dalam sarangnya itu beribu-ribu bentuk segienam yang secara geometrinya menampung isipadu terbanyak dalam ruangan kecil dan rasa yang terhalus dari kemanisan bebunga yang mereka debungakan menerbitkan air liur dari mulutmu
Dan pada setiap musim semi bebenih bercambah dan rena-rena indah mencolok kembali sediakala lalu sirna pabila musim bergantian hanya untuk dilahirkan kembali tahun hadapan dengan cara dan jalannya tersendiri
Kekadang sambil berbaring sepanjang malam aku bersandar menetap bebintang
yang mengekalkan sinar pada kegelapan lalu membantu kita mencari arah tuju
hingga waktu pagi suria terbit lalu menerangi siang sungguh cerah hingga kupicing mataku dan aku cuma merasa hangat sinarannya hingga awan-gemawan berarak di atas kepalaku dan memberikanku perteduhan yang paling sempurna membawa rahmat pada setiap rinai hujannya yang menghilang dahagaku dan tumbuh-tumbuhan hidup meminumnya lewat akar yang tersembunyi memegang lengannya yang dihulurkan ke arahku sambil menawarkan buah-buahan
sungguh ranum
kuapit
dengan gigiku
dengan kekaguman pada sekitaran dalam nazrahku
Namun bagaimana mataku melihat
dan bagaimana mindaku mengetahui
yang penciptaan sebegitu perlukan sesuatu yang mengawalnya
Sesuatu Yang Maha Berkuasa
Yang Maha Pemurah
Bahan-bahan dan galian
tumbuh-tumbuhan dan haiwan
semuanya saling bertaut dan dilestarikan seluruhnya
dan manusia
dengan mindanya
pun tersedar pada wujud diri di ruang-masa
lantas mampu memilih untuk menggelintar
hingga bertemu dengan kuasa yang tak bisa dilihat
atau terus membuta
namun apalah maknanya
Para Anbiya’ diutus sepanjang zaman
membantu kita melihat lantas menunjuk jalan
agar kita tak tercampak ke jurang binasa
rapatkan nazrahmu lalu perhatikan perutusan mereka -
sama sahaja
Jadi bagaimanalah kita keliru akan jalan haq dan mendapati kebenaran itu batil seperti lagu Marvin yang berkata, “ Tell me what’s Going On ? i”
apalah gunanya ?
Ya ampunii bagaimana tidak hidup jadi sia-sia dan kebahagiaan itu suatu benda yang bisa dibeli
Kaulihat pencarian itu
maknanya
apa yang kaucari
ya ampun bilakah kautemui
Kau terawang-awang dalam anganan
namun pabila kau bangkit sudah terlanjur buat berbuat sesuatu
demi masa yang telah berlalu
apa yang kau -patut, bakal, boleh- katakan
tapi
sayang sekali
Petanda demi petanda ada di mana-mana
bak senafas udara
pada mulanya kau mungkin tak melihatnya tapi kautahu ia di situ
DIA tak biarkan kita sendirian menggelintar apa yang haq dan batil
ia ada di dalam dirimu
segala sesuatu di sekitarmu
dan di dalam al-Quranul Karim
Setiap satunya berqasidah padaMU dengan qasidahnya yang tersendiri
Dari sesayap lalat
ke jejalur sinar suria
Setiap satunya berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri
Semuanya akur Engkaulah Yang Maha Esa
Sajak Asal :
EACH ONE SINGS
Each one sings to You with its own special tongue …
From the wings of a fly
To the rays of the sun
Each one sings to You with its own special tongue
All proclaiming that You are The One.
A Fountain springs from the mother to bring milk to her young
From a single seed there grows a tree,
Look what it’s become
As it exhales the life that puts breath in our lungs
you see, the bee defends its hive
even though it dies once it has stung
inside its honeycomb
thousands of hexagons
which geometrically hold the most volume
in the smallest space
and the smallest taste
of the sweetness from the flowers that they pollinate
makes your mouth salivate
and each spring time seeds germinate
and the beautiful brilliant colors come back all the same
as the seasons alternate, they fade away
only to be reborn again next year somehow some way
on my back looking at the stars, sometimes all night I lay
keeping the light on in the dark and helping us find the way
until the morning time the sun rises and lights the day
so bright I close my eyes and I just feel its rays
and then the clouds come over my head and give me the perfect shade
bringing that mercy to quench my thirst in every drop of rain
and the plant life
drinks with its hidden roots
holding its arms out to me offering its fruits
so ripe
I take a bite
In awe of these surroundings within my sight
But how does my eye see
And how does my mind know
That creation necessitates something in control
An All Powerful
All Merciful
Elements and minerals
The plants and the animals
All interconnected and sustained by the whole
And mankind
With his own mind
Is conscious of his existence in this space and
And can choose to search until he finds
or just to stay blind
to the unseen
but what does it mean
Prophets sent through all the ages to help us see
And to show the way
To not be led astray
Look close and see their message was always the same
So like that Marvin song Tell me what’s Going On?
How do we confuse the righteous path and get the truth all wrong
what is the purpose
Oh how could life be worthless
And happiness a type of thing that man could purchase
You see the search is
the meaning
of what you find
oh when you find
you’re dreaming
but when you wake up its too late to make up
for the past
all that shoulda, woulda, coulda you will say but
alas
the signs were everywhere
just like a breath of air
you may not see it at first but you know its there
HE did not leave us here alone to find out right and wrong
It is within you
All around you
and in the Holy Quran
Each one sings to You with its own special tongue
From the wings of a fly
To the rays of the sun
Each one sings to You with its own special tongue
All proclaiming that You are The One.
Authored by Akhuhum Fil Islaam, ‘Abdul Aziz (07/06/2007)- Seattle, US.
i Tidak diterjemahkan kerana tidak menterjemahkannya membantu pembaca membuat track back pada lirik lagu yang asli.
ii Ya ampun = ekspresi biasa yang dipertuturkan dalam Bahasa Melayu dialek Tawau yang meledakkan rasa kejutan atau kecewa. Rujuk silang boleh diperolehi di : http://ms.wikipedia.org/wiki/Loghat_Tawau
Pemusnah Yang Tersembunyi Mei 23, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.7 comments

Friendship Comments
Myspace Comments
“Please give the most of your effort to connect our fellow colleagues with the Quran. We are now living in a disconnected society. And to connect them, let us back to the root.”
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil
Pengasas/Pengelola Saifulislam.com
MENJENGUK arkib artikel lama di saifulislam.com lalu bertemu kata-kata Ustaz Hasrizal- yang menyebutkan ‘We are now living in a disconnected society.’, jiwa dan rasa penulis pantas disentuh resah. Apatah lagi bila penulis kaitkannya dengan artikel Kehidupan dan Erti Persahabatan yang ditulis oleh Marlina Maepee.
Dalam artikel tersebut ( rujuk Utusan Borneo Edisi Sabah, April 20, 2009 ) Marlina menyatakan : “ …kenapalah saya tidak memahami dan mengerti tentang pentingnya menjalinkan persahabatan yang erat dan berpanjangan ?”.
Persahabatan…
Kedua-dua artikel itu cuma set induksi yang menujah penulis untuk mengorek kembali sejarah lampau – sudah tentu yang berkaitan dengan persahabatan, lalu menganalisisnya dengan jujur.
Penulis telah menemukan sesuatu yang elok dikongsikan bersama.
Mengetahui pentingnya menjalinkan persahabatan yang erat dan berpanjangan sahaja tidak cukup, jika tidak disertai kesedaran akan terdapatnya suatu unsur pemusnah yang mengagalkan untaian persahabatan, sekaligus menyebabkan seseorang menjadi ragu-ragu pada kepentingan tersebut.
Unsur tersebut ialah jahilnya seseorang dari memahami dan mengaplikasikan konsep seek first to understand, then to be understood ( baca dahulu buku 7 Habits oleh Stephen R. Covey ).
Namun, berapa ramaikah yang menyedari ? Ketika seseorang yang dianggap sahabat itu membuat salah, bukan main lagi sahabat itu dihukum, ditegur dengan cara seolah-olah sahabat yang menegur itu serba ( maha ? ) tahu apa yang baik untuk sahabatnya; berbanding menjadi orang yang mahu memahami dan berkongsi.
ADA APA DENGAN SEEK FIRST TO UNDERSTAND, THEN TO BE UNDERSTOOD ?
Kata Saudari Marlina dalam artikel yang sama : “ Bukan mudah untuk membuat orang percaya dan menerima kita sebagai sahabat mereka. Kerana kita sendiri perlulah terlebih dahulu berubah dan belajar untuk menerima kehadiran orang lain. Seperti juga kata orang, ‘Jika ingin dihormati, maka kita sendiri juga kenalah terlebih dahulu belajar untuk menerima kehadiran orang lain.’.”
Penulis yakin, majoriti pembaca yang telah membaca artikel Saudari Marlina bukan setakat mahu menerima kata-kata di atas begitu sahaja, tetapi benar-benar ingin tahu cara apakah yang terbaik untuk melaksanakan pendapat Marlina. Namun, kata-kata itu diletakkan di penghujung artikel berbanding dihuraikan. Namun, kebaikannya : membuka ruang bagi orang lain memberikan cadangan.
Dan penulis pun terpanggil menulis artikel ini.
“ Pernahkah kau bermimpi, seketika berada di tempatku ? Membayangkan pahit manis berlaku…”
Lirik lagu Datin Seri Siti Nurhaliza itu pasti masih mesra dalam ingatan para pembaca. Membayangkan bagaimana berada seketika di tempat orang yang kita hadapi dan saling berkomunikasi.
Itulah sebahagian dari apa yang termaktub dalam Seek First to Understand, Then to Be Understood. Tapi apa dia Seek first to understand, then to be understood ?
Ia merupakan tabiat kelima daripada 7 tabiat orang cemerlang yang dipelopori oleh Dr. Steven R Covey. Tabiat yang lain para pembaca silalah baca buku beliau. Tabiat kelima ini menyarankan agar kita mendengar dahulu dengan efektif dan penuh empati dari sudut pandangan orang yang berkomunikasi dengan kita, berbanding menggunakan sudut pandangan kita sendiri. Lantas, perasaan serta makna dari orang yang berkenaan akan sampai kepada kita.
Banyak tokoh besar dunia yang telah meletakkan Rasulullah SAW sebagai manusia paling cemerlang. Dan Baginda sendiri sebenarnya mengamalkan konsep seek first to understand, then to be understood, sebagai nilai-nilai terpuji yang patut diamalkan Umat Islam. Tak percaya ? Banyak buktinya. Contohnya, Baginda tidak pernah melulu membidaahkan amalan mana-mana sahabat baginda, walaupun amalan itu belum diamalkan Baginda SAW. Baginda akan bertanya dahului.
ILMU, AKAL, HATI
Untuk menegur sahabat yang buat silap, namun dalam masa yang sama masih meraikan nilai dirinya, seorang pemberi maklumbalas dalam artikel Dialog Gen-Y memberi saranan berupa berupa pendekatan “ilmu +akal +hati” untuk menginsafkan seseorang. Pendekatan ini telah lama digunakan dalam medan dakwah Islam di dunia Barat.
Pendekatan yang menyatukan ilmu wahyu yang dirajut dengan harmoni bersama hujah dari displin sains/kemanusiaan dan aplikasi psikologi berupa pujukan.
Namun, pendekatan sebegini masih tidak popular di Malaysia. Ramai yang masih suka menggunakan pendekatan yang melebihkan konsep membasuh dan mendoktrinkan. Mendera perasaan dari menggerakkan akal. Dalam persahabatan, analoginya lebih suka menegur dari mendengar luahan rasa sahabat. “ Aku sahaja betul, kau salah.” Jika sahabat yang dinasihati itu jenis yang suka berfikir dan mengkritik ( jika cadangan/teguran itu tak kena ), sahabat yang menasihati tadi akan kena batunya kembali. Jika boleh berlapang dada, boleh tahan lagi. Tapi jika sahabat yang menegur tadi mempunyai kecenderungan untuk memusuhi orang yang melawan cakapnya, kacaulah !
Lalu jadilah seperti lagu dalam filem P. Ramlee : “ Putus sudah kasih sayang…”
JADI ?
Bagi mereka yang sihat emosinya dan tidak punya sejarah kecederaan emosi yang serius ( yang sebaliknya sebaik-baiknya mendapatkan bantuan professional terlebih dahulu ), pendekatan seek first to understand, then to be understood merupakan pendekatan terbaik dalam menjalinkan persahabatan. Penulis menyedari hal ini bukan kerana terpesona dengan gaya Ustaz Hasrizal yang mengaplikasikan pendekatan ini, tetapi kerana penulis telah menyelusuri sungai sejarah lalu menyedari sesuatu dan berkata, “ Kalau semua orang menghayati lalu menggunakan kaedah ini, alangkah baiknya masa lalu jadinya !” Setiap individu yang hadir dalam hidup kita mempunyai sejarah hidup tersendiri. Ada wilayah yang boleh diakses dan ada pula wilayah terlarang. Jadi untuk mendekati setiap orang perlu pendekatan berbeza. Dan asas untuk berdepan dengan mereka sama walaupun pendekatan menyelesaikan itu berlainan : berikanlah kepercayaan dengan memberi mereka peluang untuk dipercayai.
Kata Ustaz Hasrizal dalam artikel Dialog Gen-Y : Antara Iman Dan Kufur ( untuk remaja, tetapi boleh juga diaplikasikan dalam persahabatan ): “ Kita perlu yakinkan mereka bahawa kita faham tentang mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan kita tidak bertindak untuk membasuh atau mendoktrinkan mereka ( dengan apa yang difikirkan betul ). Jangan dijatuhkan harga diri mereka. Jangan diremehkan keupayaan berfikir mereka.”
Dan penulis membawa kembali kata-kata Maulana Jalaluddin Rumi sebagai set induksi untuk difikirkan : “ Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.”
Wallahualam…
Rujukan silang :
Dialog Gen-Y : Antara Iman Dan Kufur di http://saifulislam.com/?p=5639
i ( Bagi yang ikut subjek pengajian hadith, boleh rujuk dua hadith yang membuktikan hal ini- hadith yang pertama terdapat dalam Muslim : 3/267 : hadis no : 943 dan At-Tirmizi : 12/17 : hadis no : 3516. Dan hadis tersebut sahih mengikut kiraan Albani didalam kitabnya “sahih At-Targhib wa At-Tarhib : 1/125 : 518. Untuk Hadith kedua sila periksa Abu Daud : 2/425 : hadis no : 657 ).
“ Tolong, Tolong, Jangan Letakkan Label Di Dahi Kami !”, Rintih Mereka Mei 9, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.2 comments
Anak-anak adalah anugerah dan juga berupa dugaan daripada Tuhan. Justeru, mendidik mereka mestilah jelas dengan personalitinya. Tugas ibu bapa adalah sebagai pemberi semangat dan bukannya lagi sebagai pemberi arahan.
Dr. Robiah K. Hamzah,
Presiden Persatuan Wanita Islam Antarabangsa.
Tatkala melihat wajah kanak-kanak yang jernih, teduh bermata bening, lebih-lebih lagi yang penulis kenali sebagai mantan murid, nurani penulis selalu tersentuh keharuan. Betapa tidak, lewat anak mata mereka, ada rintihan yang dikongsikan mereka dengan penulis, “ Tolonglah, janganlah letakkan label di dahi kami, hanya kerana kami begini dan begitu. Kami hanya anak-anak yang kerinduan bimbingan dan kasih sayang kalian.”
Rintihan sebegitu memanggil-manggil penulis- yang pernah merasai amat pahit dan deritanya dilabel itu dan ini- untuk menulis ini agar suara dan keinginan mereka sampai di tangan pembaca.
Penulis selalu tidak dapat menafikan hakikat yang kanak-kanak, seaneh-aneh manapun tingkahlaku mereka, mereka secara fitrahnya tetap helaian kain sutera yang luhur lagi halus. Namun keluhurannya mudah tercemar dan kehalusannya mudah pula rosak, oleh persekitaran dan perbuatan orang dewasa- yang rapat dengan mereka tapi kacau rasa dan jiwa. Lebih-lebih lagi orang dewasa yang mempunyai sindrom terlalu mudah melabel orang dengan label-label tertentu : Pemalas, Bodoh dan macam-macam yang ada.
Ibu bapa sanggup mengorbankan masa dan tenaga demi memastikan anak-anaknya bahagia. Jika ada di antara anak-anak dipandang mereka sebagai ‘pemalas’, mereka tak sanggup membiarkan anak itu sebegitu sahaja. Lantas bangun memberi bimbingan dan didikan agar mereka berubah jadi pintar dan rajin.
Tapi dengan cabaran zaman pascamoden yang kian dahsyat, kaedah bimbingan dan didikan yang dipakai ibu bapa selalunya sudah menjadi tidak relevan lagi. Kaedah yang digunakan semakin melebarkan jurang di antara ibu-bapa dan anak-anak. Anak-anak mula beralih kasih pada rakan-rakan sebaya yang dianggap lebih memahami dan mudah berkomunikasi mesej hati ke hati.
Haruskah mengalah ?
Justeru, penulis berbesar hati untuk mengongsikan khazanah yang digali dari dua buah artikel yang penulis telah telaah. Pertama, dari artikel Ibu Bapa Pemacu Matlamat Anak yang tersiar di Aniqah April 2009 dan disusun oleh Roihan Mat Zaib. Kedua, dari artikel The Bounce Back Chronicles oleh Joe Kita dan tersiar dalam Reader’s Digest Mei 2009.
Penulis memetik dan menegaskan kembali kata-kata Dr Robiah K. Hamzah yang disetir dari artikel pertama ;
“ Anak-anak adalah anugerah dan juga berupa dugaan daripada Tuhan. Justeru, mendidik mereka mestilah jelas dengan personalitinya. Tugas ibu bapa adalah sebagai pemberi semangat dan bukannya lagi sebagai pemberi arahan.
Kajian mendapati apabila anak-anak menjadi remaja ( tambahan dari pemerhatian penulis : segelintir dari kanak-kanak generasi pascamoden seawal tujuh tahun juga relevan untuk dirujuk ! ), mereka tidak lagi menerima perintah sebaliknya lebih suka sekiranya ibu bapa menjadi rakan mereka.”
Maka, penulis menurunkan tips yang terdapat dalam artikel tersebut :
-
Anak-anak bukanlah orang suruhan tetapi mereka adalah rakan.
-
Beri ruang untuk mereka memproses arahan yang diberikan dan bukan memaksa mereka melaksanakan arahan yang diberikan.
-
Berikan masa dan TIDAK MENGARAH DENGAN NAFSU kerana anak-anak tidak selesa menerimanya.
-
Asuh mereka dengan contoh.
-
Cuba fahami mereka dan suka apa yang mereka suka.
-
Ibu bapa MESTI BERUBAH SIKAP iaitu jika selama ini suka memerintah, berubahlah menjadi rakan/sahabat kepada anak-anak.
Penulis juga sukacita menurunkan 10 Cara Membina Keyakinan Anak yang turut terdapat dalam artikel berkenaan :
-
Memberi kasih sayang berterusan pada anak-anak.
-
Membina keyakinan dalam diri anak-anak.
-
Mempunyai batas atau had bagi keadaan tertentu sebagai langkah keselamatan.
-
Memberi sokongan jika anak melakukan perkara baru.
-
Jangan takut jika kesilapan berlaku.
-
Sering memberi kata pujian kepada anak.
-
Menjadi seorang pendengar yang baik.
-
ELAKKAN membandingkan anak dengan orang lain.
-
Usah terlalu tegas dengan mereka sebaliknya cuba menjadi sahabat mereka.
-
Sering memberi galakan kepada anak.
Oleh sebab blogs dibuat bukan untuk menempatkan artikel nan panjang berjela, penulis bakal menyambung lagi artikel ini dalam bahagian kedua, yang bercerita panjang lebar tentang label-melabel dan kesannya pada mentaliti anak-anak. Dan sudah tentunya berbicara tentang artikel dari Joe Kita.
Wallahualam…
Siapa atur Siapa ? Mei 4, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.1 comment so far
“ Kritikan saya adalah kepada idea, sikap dan pemikiran, bukannya kritikan ke atas individu. Biar pun semarah mana sekali pun saya kepada mana-mana individu, saya tetap waras untuk memisahkan di antara pemikiran dengan hal peribadi. Dengan tidak menyebut nama secara terbuka, ia tanda saya tetap menghormati mereka sebagai individu.”
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil,
Penulis Blogs saifulislam.com
Tatkala menghayati kata-kata yang dilafazkan oleh seorang Ustaz yang penulis sangat hormati ini, penulis pernah terfikir bahawa penulis dari satu aspek telah mengecam Puan DSR Erom secara terbuka, dan tidak menghormati beliau sebagai individu. Namun, penulis masih senada dengan Ustaz Hasrizal tentang hal kritik-mengkritik ini- kritikan adalah pada idea, sikap dan pemikiran, bukan pada individu. Jadi, sebelum memulakan wacana seterusnya, penulis memohon maaf kiranya Puan DSR Erom telah menyinggah ke blogs ini dan berasa tersinggung dengan cara penulis mewacana tulisan beliau di Utusan Borneo.
Terus ke wacana…
Manusia hanya hamba Tuhan.
Dan kebahagiaan seseorang hamba itu ialah pandai mengatur urusan dengan baik.
Sebagai individu Muslim, sebelum memutuskan apa benar atau tidak hujah kedua pada perenggan sebelumnya itu, lihat dulu apa dia hakikat ubudiyyah. Ubudiyyah itu maksudnya kehambaan.
Sebelum itu, penulis sukacita menyatakan pendirian penulis untuk melihat Islam dari kacamata CINTA ( pinjam kata Ustaz Faisal ). CINTA yang mampu meneutralkan segala macam racun BENCI dan DENDAM musuh luar yang dibungkus dalam label macam-macam jenama.
Faisal Tehrani, dalam novelnya Tuhan Manusia ( boleh dipersetujui, boleh tidak ) telah mewacanakan hakikat ubudiyyah. Watak Ali Taqi bertanya pada bapanya, apakah itu yang dimaksudkan dengan hakikat ubudiyyah. Jawab si bapa pada Ali Taqi, hakikat ubudiyyah itu ialah tidak melihat segala yang Allah berikan kepadanya sebagai hak milik sendiri. Kerana seorang hamba tiada hak milik. Harta dipinjamkan dan dibelanjakan dengan perintah Allah.
Perkara kedua dalam hakikat ubudiyyah ialah HAMBA TIDAK MENGATUR DIRI. Manusia jadi sibuk kerana perintah Allah. Dalam surah az-Zariyyat ayat 56, telah tersebut jelas perintah itu. Jadi, manusia sepatutnya tidak berasa stress mahupun tahzan, jika dia benar-benar faham kanun dalam ayat ke-56 surah tersebut.
Kata bapa Ali Taqi, “ Ketiga, bila kita sudah menyerahkan urusan kepada Pengurus Paling Atas, segala musibah dunia pun menjadi ringan. Kerana proses itu akan membolehkan kita merendah diri. Kita tidak perlu lagi mencari dunia Taqi, untuk mencapai sifat takatsur atau berbanyak-banyak dan tidak perlu pula berbangga yang bukan-bukan dengan sifat takabbur.”
Penulis sekali lagi membawa soalan Ali Taqi :
“ Jadi Abah… kalau orang mengamal dan memahami hakikat ubudiyyah ini maka penderitaannya pun lenyap ? ”
Jawapan si bapa tidak mengejutkan penulis.
“ Begitulah.”
Penulis sendiri berfikir sudah banyak kali, individu Muslim manakah yang mampu menolak rahsia kebahagiaan yang dinyatakan dalam Tuhan Manusia ini, walaupun datang dari sekolah pemikiran yang berbeza ?
Jika ada pendapat dari sekolah pemikiran Islam yang lain, yang lebih baik dan menarik tentang konsep manusia sebagai hamba Allah, apa salahnya dikongsikan bersama di ruang diskusi ?
Satu lagi persoalan untuk difikirkan bersama-sama : Siapa atur siapa sepatutnya ?
Wallahualam…





