Sajak terjemahan : Setiap Satunya Berqasidah Mei 25, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.add a comment
Penulis telah menelusuri Laman saifulislam.com, lalu bertemu sajak Each One Sing – dari seorang responden yang telah memberi reaksi kepada salah satu artikel yang ada di situ. Penulis tertarik dengan makna puisi ini –yang sebenarnya interteks makna dari Surah al-Israa ayat 44 : Setiap sesuatu bertasbih memuji Allah tanpa henti di alam ini melainkan Manusia dan jin- lalu menerjemahkannya seadanya.
Penulis akur pada proses penterjemahan yang selalu menuntut akan adanya berapa hal yang harus dikorbankan. Pendirian penulis, makna terasnya harus kekal meski terpaksa menghilangkan lagu asli puisinya. Pada sebahagian rima tersusun yang hilang penulis mengganti dengan teknik enjembermen- suatu teknik yang biasa digunakan oleh YB Dato’ Ariffin Arif dan ramai lagi dalam sajak-sajak mereka. Mudah-mudahan yang kurang arif BI bisa menikmati makna puisi itu dalam Bahasa Melayu. Seadanya.
Wallahualam
Rujuk silang :
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil dalam Agenda 2008: Apa Erti Saya Menganut Islam ( lihat pemberi respon ke-14 ) http://saifulislam.com/?p=1216
Setiap Satunya Berqasidah
( diterjemahkan oleh Ismi’ Nailofar )
Setiap satunya berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri…
Dari sesayap lalat
ke jejalur sinar suria
setiap satu berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri
Semuanya akur Engkaulah Yang Maha Esa
Sebuah mata air memancut dari tubuh bonda buat menyusui anakandanya
Dari satu biji benih tunggal maka membesar menjadi sepohon pokok
Lihatlah apa yang terjadi padanya sambil ia menghidu tenaga hayat yang meletakkan larian nafas di peparu kita
Kaulihat sang lebah
mempertahankan sarangnya sungguhpun mati sesudah menyengat
di dalam sarangnya itu beribu-ribu bentuk segienam yang secara geometrinya menampung isipadu terbanyak dalam ruangan kecil dan rasa yang terhalus dari kemanisan bebunga yang mereka debungakan menerbitkan air liur dari mulutmu
Dan pada setiap musim semi bebenih bercambah dan rena-rena indah mencolok kembali sediakala lalu sirna pabila musim bergantian hanya untuk dilahirkan kembali tahun hadapan dengan cara dan jalannya tersendiri
Kekadang sambil berbaring sepanjang malam aku bersandar menetap bebintang
yang mengekalkan sinar pada kegelapan lalu membantu kita mencari arah tuju
hingga waktu pagi suria terbit lalu menerangi siang sungguh cerah hingga kupicing mataku dan aku cuma merasa hangat sinarannya hingga awan-gemawan berarak di atas kepalaku dan memberikanku perteduhan yang paling sempurna membawa rahmat pada setiap rinai hujannya yang menghilang dahagaku dan tumbuh-tumbuhan hidup meminumnya lewat akar yang tersembunyi memegang lengannya yang dihulurkan ke arahku sambil menawarkan buah-buahan
sungguh ranum
kuapit
dengan gigiku
dengan kekaguman pada sekitaran dalam nazrahku
Namun bagaimana mataku melihat
dan bagaimana mindaku mengetahui
yang penciptaan sebegitu perlukan sesuatu yang mengawalnya
Sesuatu Yang Maha Berkuasa
Yang Maha Pemurah
Bahan-bahan dan galian
tumbuh-tumbuhan dan haiwan
semuanya saling bertaut dan dilestarikan seluruhnya
dan manusia
dengan mindanya
pun tersedar pada wujud diri di ruang-masa
lantas mampu memilih untuk menggelintar
hingga bertemu dengan kuasa yang tak bisa dilihat
atau terus membuta
namun apalah maknanya
Para Anbiya’ diutus sepanjang zaman
membantu kita melihat lantas menunjuk jalan
agar kita tak tercampak ke jurang binasa
rapatkan nazrahmu lalu perhatikan perutusan mereka -
sama sahaja
Jadi bagaimanalah kita keliru akan jalan haq dan mendapati kebenaran itu batil seperti lagu Marvin yang berkata, “ Tell me what’s Going On ? i”
apalah gunanya ?
Ya ampunii bagaimana tidak hidup jadi sia-sia dan kebahagiaan itu suatu benda yang bisa dibeli
Kaulihat pencarian itu
maknanya
apa yang kaucari
ya ampun bilakah kautemui
Kau terawang-awang dalam anganan
namun pabila kau bangkit sudah terlanjur buat berbuat sesuatu
demi masa yang telah berlalu
apa yang kau -patut, bakal, boleh- katakan
tapi
sayang sekali
Petanda demi petanda ada di mana-mana
bak senafas udara
pada mulanya kau mungkin tak melihatnya tapi kautahu ia di situ
DIA tak biarkan kita sendirian menggelintar apa yang haq dan batil
ia ada di dalam dirimu
segala sesuatu di sekitarmu
dan di dalam al-Quranul Karim
Setiap satunya berqasidah padaMU dengan qasidahnya yang tersendiri
Dari sesayap lalat
ke jejalur sinar suria
Setiap satunya berqasidah padaMu dengan qasidahnya yang tersendiri
Semuanya akur Engkaulah Yang Maha Esa
Sajak Asal :
EACH ONE SINGS
Each one sings to You with its own special tongue …
From the wings of a fly
To the rays of the sun
Each one sings to You with its own special tongue
All proclaiming that You are The One.
A Fountain springs from the mother to bring milk to her young
From a single seed there grows a tree,
Look what it’s become
As it exhales the life that puts breath in our lungs
you see, the bee defends its hive
even though it dies once it has stung
inside its honeycomb
thousands of hexagons
which geometrically hold the most volume
in the smallest space
and the smallest taste
of the sweetness from the flowers that they pollinate
makes your mouth salivate
and each spring time seeds germinate
and the beautiful brilliant colors come back all the same
as the seasons alternate, they fade away
only to be reborn again next year somehow some way
on my back looking at the stars, sometimes all night I lay
keeping the light on in the dark and helping us find the way
until the morning time the sun rises and lights the day
so bright I close my eyes and I just feel its rays
and then the clouds come over my head and give me the perfect shade
bringing that mercy to quench my thirst in every drop of rain
and the plant life
drinks with its hidden roots
holding its arms out to me offering its fruits
so ripe
I take a bite
In awe of these surroundings within my sight
But how does my eye see
And how does my mind know
That creation necessitates something in control
An All Powerful
All Merciful
Elements and minerals
The plants and the animals
All interconnected and sustained by the whole
And mankind
With his own mind
Is conscious of his existence in this space and
And can choose to search until he finds
or just to stay blind
to the unseen
but what does it mean
Prophets sent through all the ages to help us see
And to show the way
To not be led astray
Look close and see their message was always the same
So like that Marvin song Tell me what’s Going On?
How do we confuse the righteous path and get the truth all wrong
what is the purpose
Oh how could life be worthless
And happiness a type of thing that man could purchase
You see the search is
the meaning
of what you find
oh when you find
you’re dreaming
but when you wake up its too late to make up
for the past
all that shoulda, woulda, coulda you will say but
alas
the signs were everywhere
just like a breath of air
you may not see it at first but you know its there
HE did not leave us here alone to find out right and wrong
It is within you
All around you
and in the Holy Quran
Each one sings to You with its own special tongue
From the wings of a fly
To the rays of the sun
Each one sings to You with its own special tongue
All proclaiming that You are The One.
Authored by Akhuhum Fil Islaam, ‘Abdul Aziz (07/06/2007)- Seattle, US.
i Tidak diterjemahkan kerana tidak menterjemahkannya membantu pembaca membuat track back pada lirik lagu yang asli.
ii Ya ampun = ekspresi biasa yang dipertuturkan dalam Bahasa Melayu dialek Tawau yang meledakkan rasa kejutan atau kecewa. Rujuk silang boleh diperolehi di : http://ms.wikipedia.org/wiki/Loghat_Tawau
Pemusnah Yang Tersembunyi Mei 23, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.7 comments

Friendship Comments
Myspace Comments
“Please give the most of your effort to connect our fellow colleagues with the Quran. We are now living in a disconnected society. And to connect them, let us back to the root.”
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil
Pengasas/Pengelola Saifulislam.com
MENJENGUK arkib artikel lama di saifulislam.com lalu bertemu kata-kata Ustaz Hasrizal- yang menyebutkan ‘We are now living in a disconnected society.’, jiwa dan rasa penulis pantas disentuh resah. Apatah lagi bila penulis kaitkannya dengan artikel Kehidupan dan Erti Persahabatan yang ditulis oleh Marlina Maepee.
Dalam artikel tersebut ( rujuk Utusan Borneo Edisi Sabah, April 20, 2009 ) Marlina menyatakan : “ …kenapalah saya tidak memahami dan mengerti tentang pentingnya menjalinkan persahabatan yang erat dan berpanjangan ?”.
Persahabatan…
Kedua-dua artikel itu cuma set induksi yang menujah penulis untuk mengorek kembali sejarah lampau – sudah tentu yang berkaitan dengan persahabatan, lalu menganalisisnya dengan jujur.
Penulis telah menemukan sesuatu yang elok dikongsikan bersama.
Mengetahui pentingnya menjalinkan persahabatan yang erat dan berpanjangan sahaja tidak cukup, jika tidak disertai kesedaran akan terdapatnya suatu unsur pemusnah yang mengagalkan untaian persahabatan, sekaligus menyebabkan seseorang menjadi ragu-ragu pada kepentingan tersebut.
Unsur tersebut ialah jahilnya seseorang dari memahami dan mengaplikasikan konsep seek first to understand, then to be understood ( baca dahulu buku 7 Habits oleh Stephen R. Covey ).
Namun, berapa ramaikah yang menyedari ? Ketika seseorang yang dianggap sahabat itu membuat salah, bukan main lagi sahabat itu dihukum, ditegur dengan cara seolah-olah sahabat yang menegur itu serba ( maha ? ) tahu apa yang baik untuk sahabatnya; berbanding menjadi orang yang mahu memahami dan berkongsi.
ADA APA DENGAN SEEK FIRST TO UNDERSTAND, THEN TO BE UNDERSTOOD ?
Kata Saudari Marlina dalam artikel yang sama : “ Bukan mudah untuk membuat orang percaya dan menerima kita sebagai sahabat mereka. Kerana kita sendiri perlulah terlebih dahulu berubah dan belajar untuk menerima kehadiran orang lain. Seperti juga kata orang, ‘Jika ingin dihormati, maka kita sendiri juga kenalah terlebih dahulu belajar untuk menerima kehadiran orang lain.’.”
Penulis yakin, majoriti pembaca yang telah membaca artikel Saudari Marlina bukan setakat mahu menerima kata-kata di atas begitu sahaja, tetapi benar-benar ingin tahu cara apakah yang terbaik untuk melaksanakan pendapat Marlina. Namun, kata-kata itu diletakkan di penghujung artikel berbanding dihuraikan. Namun, kebaikannya : membuka ruang bagi orang lain memberikan cadangan.
Dan penulis pun terpanggil menulis artikel ini.
“ Pernahkah kau bermimpi, seketika berada di tempatku ? Membayangkan pahit manis berlaku…”
Lirik lagu Datin Seri Siti Nurhaliza itu pasti masih mesra dalam ingatan para pembaca. Membayangkan bagaimana berada seketika di tempat orang yang kita hadapi dan saling berkomunikasi.
Itulah sebahagian dari apa yang termaktub dalam Seek First to Understand, Then to Be Understood. Tapi apa dia Seek first to understand, then to be understood ?
Ia merupakan tabiat kelima daripada 7 tabiat orang cemerlang yang dipelopori oleh Dr. Steven R Covey. Tabiat yang lain para pembaca silalah baca buku beliau. Tabiat kelima ini menyarankan agar kita mendengar dahulu dengan efektif dan penuh empati dari sudut pandangan orang yang berkomunikasi dengan kita, berbanding menggunakan sudut pandangan kita sendiri. Lantas, perasaan serta makna dari orang yang berkenaan akan sampai kepada kita.
Banyak tokoh besar dunia yang telah meletakkan Rasulullah SAW sebagai manusia paling cemerlang. Dan Baginda sendiri sebenarnya mengamalkan konsep seek first to understand, then to be understood, sebagai nilai-nilai terpuji yang patut diamalkan Umat Islam. Tak percaya ? Banyak buktinya. Contohnya, Baginda tidak pernah melulu membidaahkan amalan mana-mana sahabat baginda, walaupun amalan itu belum diamalkan Baginda SAW. Baginda akan bertanya dahului.
ILMU, AKAL, HATI
Untuk menegur sahabat yang buat silap, namun dalam masa yang sama masih meraikan nilai dirinya, seorang pemberi maklumbalas dalam artikel Dialog Gen-Y memberi saranan berupa berupa pendekatan “ilmu +akal +hati” untuk menginsafkan seseorang. Pendekatan ini telah lama digunakan dalam medan dakwah Islam di dunia Barat.
Pendekatan yang menyatukan ilmu wahyu yang dirajut dengan harmoni bersama hujah dari displin sains/kemanusiaan dan aplikasi psikologi berupa pujukan.
Namun, pendekatan sebegini masih tidak popular di Malaysia. Ramai yang masih suka menggunakan pendekatan yang melebihkan konsep membasuh dan mendoktrinkan. Mendera perasaan dari menggerakkan akal. Dalam persahabatan, analoginya lebih suka menegur dari mendengar luahan rasa sahabat. “ Aku sahaja betul, kau salah.” Jika sahabat yang dinasihati itu jenis yang suka berfikir dan mengkritik ( jika cadangan/teguran itu tak kena ), sahabat yang menasihati tadi akan kena batunya kembali. Jika boleh berlapang dada, boleh tahan lagi. Tapi jika sahabat yang menegur tadi mempunyai kecenderungan untuk memusuhi orang yang melawan cakapnya, kacaulah !
Lalu jadilah seperti lagu dalam filem P. Ramlee : “ Putus sudah kasih sayang…”
JADI ?
Bagi mereka yang sihat emosinya dan tidak punya sejarah kecederaan emosi yang serius ( yang sebaliknya sebaik-baiknya mendapatkan bantuan professional terlebih dahulu ), pendekatan seek first to understand, then to be understood merupakan pendekatan terbaik dalam menjalinkan persahabatan. Penulis menyedari hal ini bukan kerana terpesona dengan gaya Ustaz Hasrizal yang mengaplikasikan pendekatan ini, tetapi kerana penulis telah menyelusuri sungai sejarah lalu menyedari sesuatu dan berkata, “ Kalau semua orang menghayati lalu menggunakan kaedah ini, alangkah baiknya masa lalu jadinya !” Setiap individu yang hadir dalam hidup kita mempunyai sejarah hidup tersendiri. Ada wilayah yang boleh diakses dan ada pula wilayah terlarang. Jadi untuk mendekati setiap orang perlu pendekatan berbeza. Dan asas untuk berdepan dengan mereka sama walaupun pendekatan menyelesaikan itu berlainan : berikanlah kepercayaan dengan memberi mereka peluang untuk dipercayai.
Kata Ustaz Hasrizal dalam artikel Dialog Gen-Y : Antara Iman Dan Kufur ( untuk remaja, tetapi boleh juga diaplikasikan dalam persahabatan ): “ Kita perlu yakinkan mereka bahawa kita faham tentang mereka, dunia mereka, masalah mereka, dan kita tidak bertindak untuk membasuh atau mendoktrinkan mereka ( dengan apa yang difikirkan betul ). Jangan dijatuhkan harga diri mereka. Jangan diremehkan keupayaan berfikir mereka.”
Dan penulis membawa kembali kata-kata Maulana Jalaluddin Rumi sebagai set induksi untuk difikirkan : “ Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.”
Wallahualam…
Rujukan silang :
Dialog Gen-Y : Antara Iman Dan Kufur di http://saifulislam.com/?p=5639
i ( Bagi yang ikut subjek pengajian hadith, boleh rujuk dua hadith yang membuktikan hal ini- hadith yang pertama terdapat dalam Muslim : 3/267 : hadis no : 943 dan At-Tirmizi : 12/17 : hadis no : 3516. Dan hadis tersebut sahih mengikut kiraan Albani didalam kitabnya “sahih At-Targhib wa At-Tarhib : 1/125 : 518. Untuk Hadith kedua sila periksa Abu Daud : 2/425 : hadis no : 657 ).
“ Tolong, Tolong, Jangan Letakkan Label Di Dahi Kami !”, Rintih Mereka Mei 9, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.2 comments
Anak-anak adalah anugerah dan juga berupa dugaan daripada Tuhan. Justeru, mendidik mereka mestilah jelas dengan personalitinya. Tugas ibu bapa adalah sebagai pemberi semangat dan bukannya lagi sebagai pemberi arahan.
Dr. Robiah K. Hamzah,
Presiden Persatuan Wanita Islam Antarabangsa.
Tatkala melihat wajah kanak-kanak yang jernih, teduh bermata bening, lebih-lebih lagi yang penulis kenali sebagai mantan murid, nurani penulis selalu tersentuh keharuan. Betapa tidak, lewat anak mata mereka, ada rintihan yang dikongsikan mereka dengan penulis, “ Tolonglah, janganlah letakkan label di dahi kami, hanya kerana kami begini dan begitu. Kami hanya anak-anak yang kerinduan bimbingan dan kasih sayang kalian.”
Rintihan sebegitu memanggil-manggil penulis- yang pernah merasai amat pahit dan deritanya dilabel itu dan ini- untuk menulis ini agar suara dan keinginan mereka sampai di tangan pembaca.
Penulis selalu tidak dapat menafikan hakikat yang kanak-kanak, seaneh-aneh manapun tingkahlaku mereka, mereka secara fitrahnya tetap helaian kain sutera yang luhur lagi halus. Namun keluhurannya mudah tercemar dan kehalusannya mudah pula rosak, oleh persekitaran dan perbuatan orang dewasa- yang rapat dengan mereka tapi kacau rasa dan jiwa. Lebih-lebih lagi orang dewasa yang mempunyai sindrom terlalu mudah melabel orang dengan label-label tertentu : Pemalas, Bodoh dan macam-macam yang ada.
Ibu bapa sanggup mengorbankan masa dan tenaga demi memastikan anak-anaknya bahagia. Jika ada di antara anak-anak dipandang mereka sebagai ‘pemalas’, mereka tak sanggup membiarkan anak itu sebegitu sahaja. Lantas bangun memberi bimbingan dan didikan agar mereka berubah jadi pintar dan rajin.
Tapi dengan cabaran zaman pascamoden yang kian dahsyat, kaedah bimbingan dan didikan yang dipakai ibu bapa selalunya sudah menjadi tidak relevan lagi. Kaedah yang digunakan semakin melebarkan jurang di antara ibu-bapa dan anak-anak. Anak-anak mula beralih kasih pada rakan-rakan sebaya yang dianggap lebih memahami dan mudah berkomunikasi mesej hati ke hati.
Haruskah mengalah ?
Justeru, penulis berbesar hati untuk mengongsikan khazanah yang digali dari dua buah artikel yang penulis telah telaah. Pertama, dari artikel Ibu Bapa Pemacu Matlamat Anak yang tersiar di Aniqah April 2009 dan disusun oleh Roihan Mat Zaib. Kedua, dari artikel The Bounce Back Chronicles oleh Joe Kita dan tersiar dalam Reader’s Digest Mei 2009.
Penulis memetik dan menegaskan kembali kata-kata Dr Robiah K. Hamzah yang disetir dari artikel pertama ;
“ Anak-anak adalah anugerah dan juga berupa dugaan daripada Tuhan. Justeru, mendidik mereka mestilah jelas dengan personalitinya. Tugas ibu bapa adalah sebagai pemberi semangat dan bukannya lagi sebagai pemberi arahan.
Kajian mendapati apabila anak-anak menjadi remaja ( tambahan dari pemerhatian penulis : segelintir dari kanak-kanak generasi pascamoden seawal tujuh tahun juga relevan untuk dirujuk ! ), mereka tidak lagi menerima perintah sebaliknya lebih suka sekiranya ibu bapa menjadi rakan mereka.”
Maka, penulis menurunkan tips yang terdapat dalam artikel tersebut :
-
Anak-anak bukanlah orang suruhan tetapi mereka adalah rakan.
-
Beri ruang untuk mereka memproses arahan yang diberikan dan bukan memaksa mereka melaksanakan arahan yang diberikan.
-
Berikan masa dan TIDAK MENGARAH DENGAN NAFSU kerana anak-anak tidak selesa menerimanya.
-
Asuh mereka dengan contoh.
-
Cuba fahami mereka dan suka apa yang mereka suka.
-
Ibu bapa MESTI BERUBAH SIKAP iaitu jika selama ini suka memerintah, berubahlah menjadi rakan/sahabat kepada anak-anak.
Penulis juga sukacita menurunkan 10 Cara Membina Keyakinan Anak yang turut terdapat dalam artikel berkenaan :
-
Memberi kasih sayang berterusan pada anak-anak.
-
Membina keyakinan dalam diri anak-anak.
-
Mempunyai batas atau had bagi keadaan tertentu sebagai langkah keselamatan.
-
Memberi sokongan jika anak melakukan perkara baru.
-
Jangan takut jika kesilapan berlaku.
-
Sering memberi kata pujian kepada anak.
-
Menjadi seorang pendengar yang baik.
-
ELAKKAN membandingkan anak dengan orang lain.
-
Usah terlalu tegas dengan mereka sebaliknya cuba menjadi sahabat mereka.
-
Sering memberi galakan kepada anak.
Oleh sebab blogs dibuat bukan untuk menempatkan artikel nan panjang berjela, penulis bakal menyambung lagi artikel ini dalam bahagian kedua, yang bercerita panjang lebar tentang label-melabel dan kesannya pada mentaliti anak-anak. Dan sudah tentunya berbicara tentang artikel dari Joe Kita.
Wallahualam…
Siapa atur Siapa ? Mei 4, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.1 comment so far
“ Kritikan saya adalah kepada idea, sikap dan pemikiran, bukannya kritikan ke atas individu. Biar pun semarah mana sekali pun saya kepada mana-mana individu, saya tetap waras untuk memisahkan di antara pemikiran dengan hal peribadi. Dengan tidak menyebut nama secara terbuka, ia tanda saya tetap menghormati mereka sebagai individu.”
Ustaz Hasrizal Abdul Jamil,
Penulis Blogs saifulislam.com
Tatkala menghayati kata-kata yang dilafazkan oleh seorang Ustaz yang penulis sangat hormati ini, penulis pernah terfikir bahawa penulis dari satu aspek telah mengecam Puan DSR Erom secara terbuka, dan tidak menghormati beliau sebagai individu. Namun, penulis masih senada dengan Ustaz Hasrizal tentang hal kritik-mengkritik ini- kritikan adalah pada idea, sikap dan pemikiran, bukan pada individu. Jadi, sebelum memulakan wacana seterusnya, penulis memohon maaf kiranya Puan DSR Erom telah menyinggah ke blogs ini dan berasa tersinggung dengan cara penulis mewacana tulisan beliau di Utusan Borneo.
Terus ke wacana…
Manusia hanya hamba Tuhan.
Dan kebahagiaan seseorang hamba itu ialah pandai mengatur urusan dengan baik.
Sebagai individu Muslim, sebelum memutuskan apa benar atau tidak hujah kedua pada perenggan sebelumnya itu, lihat dulu apa dia hakikat ubudiyyah. Ubudiyyah itu maksudnya kehambaan.
Sebelum itu, penulis sukacita menyatakan pendirian penulis untuk melihat Islam dari kacamata CINTA ( pinjam kata Ustaz Faisal ). CINTA yang mampu meneutralkan segala macam racun BENCI dan DENDAM musuh luar yang dibungkus dalam label macam-macam jenama.
Faisal Tehrani, dalam novelnya Tuhan Manusia ( boleh dipersetujui, boleh tidak ) telah mewacanakan hakikat ubudiyyah. Watak Ali Taqi bertanya pada bapanya, apakah itu yang dimaksudkan dengan hakikat ubudiyyah. Jawab si bapa pada Ali Taqi, hakikat ubudiyyah itu ialah tidak melihat segala yang Allah berikan kepadanya sebagai hak milik sendiri. Kerana seorang hamba tiada hak milik. Harta dipinjamkan dan dibelanjakan dengan perintah Allah.
Perkara kedua dalam hakikat ubudiyyah ialah HAMBA TIDAK MENGATUR DIRI. Manusia jadi sibuk kerana perintah Allah. Dalam surah az-Zariyyat ayat 56, telah tersebut jelas perintah itu. Jadi, manusia sepatutnya tidak berasa stress mahupun tahzan, jika dia benar-benar faham kanun dalam ayat ke-56 surah tersebut.
Kata bapa Ali Taqi, “ Ketiga, bila kita sudah menyerahkan urusan kepada Pengurus Paling Atas, segala musibah dunia pun menjadi ringan. Kerana proses itu akan membolehkan kita merendah diri. Kita tidak perlu lagi mencari dunia Taqi, untuk mencapai sifat takatsur atau berbanyak-banyak dan tidak perlu pula berbangga yang bukan-bukan dengan sifat takabbur.”
Penulis sekali lagi membawa soalan Ali Taqi :
“ Jadi Abah… kalau orang mengamal dan memahami hakikat ubudiyyah ini maka penderitaannya pun lenyap ? ”
Jawapan si bapa tidak mengejutkan penulis.
“ Begitulah.”
Penulis sendiri berfikir sudah banyak kali, individu Muslim manakah yang mampu menolak rahsia kebahagiaan yang dinyatakan dalam Tuhan Manusia ini, walaupun datang dari sekolah pemikiran yang berbeza ?
Jika ada pendapat dari sekolah pemikiran Islam yang lain, yang lebih baik dan menarik tentang konsep manusia sebagai hamba Allah, apa salahnya dikongsikan bersama di ruang diskusi ?
Satu lagi persoalan untuk difikirkan bersama-sama : Siapa atur siapa sepatutnya ?
Wallahualam…
Menjadi Zaidah… April 22, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.1 comment so far
( Dedikasi untuk Kekanda DSR Erom dan
pembaca artikel ‘Merampas Kembali Cinta Yang Hilang’ )
PENULIS sama-sekali tidak berminat untuk menjadikan blogs ini sebagai gelanggang tahkim, sekadar berkongsi pendapat alternatif/wacana balas dengan pembaca tentang artikel di atas, yang telah tersiar di akhbar Utusan Borneo pada Isnin 20 April yang lalu.
Reaksi sebagai penulis karya Dari Rose Quartz Ke Cakna Cinta dan Di Balik Lembut Kerudung Dan Teduh Wajahnya.
Dan sudah jadi salah satu kegemaran penulis untuk memulakan apa-apa wacana dengan set induksi dari karya penulis lain. Penulis berbesar hati untuk membawakan teks yang dipetik dari novel Pulau Renik Ungu, buah fikiran dan sukma Bonda Siti Zainon Ismail yang tercinta :
Wahai, didengarnya kelibas sayap helang laut. Decip ketilang air, sudah lanjutkah usiaku?
“Ayuhlah, jangan memilih sangat,” usik seorang Sasterawan Negara kala mereka menghabiskan sisa petang di lobi Hotel Hyatt setelah selesai bengkel sastera di Kinabalu. Bersuami atau tidak, memang selama ini tidak dirasakan kelainannya. Mungkin kerana dia lebih berhati-hati menyediakan kertas kerja, penyelidikan di perpustakaan atau di lapangan. Memenuhi undangan forum, seminar atau ceramah, lebih menarik daripada memenuhi undangan pesta perkahwinan keluarga. Lebih utama memilih senarai buku daripada memikirkan rumah tangga. Rumah tangga? Bukankah makna ‘rumah tangga’ itu mulai atau kerap kali meraguinya. Bayangannya terhadap definisi ‘rumah tangga’ kerap merujuk pada reka bentuk rumah Melayu tradisi. Ada tangga di depan anjung yang menghubungkan ruang tengah atau ibu rumah yang luas tempat berkumpulnya keluarga. Dapur di belakang sebagai pelengkap hidup. Dulu, tangga dihias indah. Rumah Melaka — bertangga batu, hiasan seramik berbunga-bunga; terjulur luas menyongsong halaman. Seakan melambai tamu agar mengunjunginya. Rumah menjadi harmoni dengan anjung terbuka. Serambi yang luas, tingkap dan jejenang membuat angin bebas keluar masuk. Tetapi itu dulu. Waktu nenek dan datuknya memastikan tapak rumah. Sempurnakah erti ‘rumah tangga’! Kini erti atau makna estetis dan filsafat tidak ada lagi. Cuma fungsinya sahaja. Memang ada bangunan dengan ratusan malah ribuan anak tangga di flat tinggi ibu kota, kemudian dilengkap lagi dengan kelancaran lif. Mana ada rumah bertangga lagi! Dengan lif, jalan singkat ke puncak mudah sekali dilalui. Begitu jugakah perkahwinan itu? Ah! Institusi asal perkahwinan juga telah tergelincir makna. Adiknya. Ya, adiknya. Tiba-tiba Zaidah teringat adiknya. Selepas berkähwin, setelah melahirkan anak pertama — hubungan keluarga, ibu anak Seakan terputus. Setiap kali adiknya berkunjung ke rumah, hanya Yati sahaja yang singgah. Suami hanya menghantar setakat pintu pagar. Dan datang lagi untuk menjemput Yati pulang. Di manakah perbualan mesra yang dapat menyegarkan kasih sayang. Di manakah kesilapan ‘rumah tangga’ itu? Duniakah yang bobrok atau manusia si penghuni alam yang menghodohkannya? Di mana pula cermin diri yang dapat memantulkan kekeruhan dan kejernihan nurani insani? Inilah jawapan atau kesan kecurigaan Zaidah, hingga tidak peduhi dengan kudrat alam! Aku ingin menumpah kasih sayang melalui kerjaku. Dengan mahasiswa. Dengan sahabat-sahabat dan terus membina persahabatan setiap kali bertemu teman-ternan baru.
“Tidak menjalin rasa batin?” tanya lagi si sasterawan.
“Oh! Tentu saja — rasa ilmu cukup merangsang saya untuk bekerja.” Memang sesekali dia tersentuh, berkeluh…
( m/s 54-55 )
Keluhan seorang Zaidah Johri Thibroni, sungguhpun terluah pada era penulis masih berada di sekolah rendah, tetap relevan hingga ke hari ini. Malah dalam era pascamoden dan serangan fikrah perkampungan global yang semakin menjadi-jadi sekarang, keluhan Zaidah itu kian benar adanya.
Membuat satu jukstaposisi antara keluhan Zaidah dengan salah satu persoalan dalam artikel yang ditulis DSR Erom, lalu menyorotnya dengan realiti hidup; yang hadir dalam minda penulis seusai pembacaan adalah : “ Pandangan dalam artikel Merampas Kembali Cinta Yang Hilang adalah pandangan seorang idealis yang benar-benar berat untuk dilaksanakan.” Semakin berat apabila meletakkannya saling bersebelahan dengan realiti hidup pascamoden yang penuh momokan.
Kenapa ?
Pertama, izinkan penulis menyorot pula pandangan seorang Citra Femina dari Di Balik Lembut Kerudung Dan Teduh Wajahnya, kerana jawapannya ada di situ :
“ …Bukannya saya tidak percaya pada qada’ dan qadar Allah. Percayalah Kapten, apabila majoriti dari kaum sejenis Kapten telah kembali menyedari hakikat sebenar kenapa dirinya harus wujud dengan ikhlasnya, lalu segala tindak-tanduknya pun berasaskan hakikat itu, masa itulah saya juga akan menjalani hidup seperti wanita lain yang Kapten kenali. Bercinta dan berbahagia dengan cinta…”
Lanjutkan lagi kata-kata Citra Femina…
“ Jadi, buat masa sekarang biarlah saya begini, Kapten. Kerana saya yakin dan percaya bahawa saya diciptakan bukan untuk lelaki yang hanya berbangga untuk memiliki dan menguasai kami !”
Betapa majoriti dari kaum lelaki itu sendiri telah membuat Citra Femina si juruterbang srikandi cuak lalu mengasosiasikan alam rumahtangga dengan satu istilah yang popular di kalangan juruterbang dan komuniti penerbangan, CFIT- Controlled Flight Into Terrain ( Penerbangan Yang Terkawal Telah Terbang Menuju ke Cerun ).
Sungguh satu pandangan yang menyebabkan Kapten Tajol Adros tersentak. Lantas mendalami pendapat Ibnu Arabi tentang cinta lelaki-wanita. Hakikat penciptaan Adam dan Hawa serta hikmahnya. Menyedarkan dirinya betapa dia dan majoriti kaum sejenisnya telah memilih untuk menjadi Julius Ceasar- Yang memandang wanita dengan pandangan, “ Aku lihat. Aku datang, Aku taklukkan !”.
Atau paling ngeri, terus terbayangkan ‘tilam dan bantal’ melulu apabila memikirkan wanita !
Penulis tidak berminat untuk berkhutbah atau menulis didaktik ala tulisan DSR Erom. Hanya menyetir pendapat watak-watak dari karya kreatif yang relevan sebagai jawapan, dan serahkan kepada pembaca dan buatlah seperti kata Nabil ( versi yang lebih berbahasa ) : “ Saudara-saudari fikirkanlah sendiri !”. Kerana penulis yakin, majoriti dari pengunjung blogs ini rata-rata orang-orang yang terpelajar, ulul albab dan tidak sukakan perubahan yang dipaksakan.
Kedua, sambung lagi tentang Zaidah…
Zaidah menyedari beberapa keinginan memajukan diri selalunya menjadikan wanita makin kehilangan nilai peribadi. Hayati, sahabat sarjananya berjuang terus-menerus untuk menyelesaikan pengajian ke peringkat doktor falsafah, terpaksa menangguhkan perkahwinan. Si lelaki tidak sabar, sanggup memkahi bakai adik iparnya. Hayati kecewa, merajuk, dan kini menctap di Vienna. Raihan yang terlewat jatuh cinta ingin menyempurnakan diri scbagai wanita, akhirnya meninggalkan lapangan kesarjanaan apabila bertemu Coln di Phnom Penh. Terkejut oleh manisnya cinta mereka menyatu dan berkeluarga dan kini menetap di Islamabad. Tetapi Zaidah terlalu berhati-hati dan sabar. Itulah pegangannya setiap kali ada mata helang mengintai yang bila-bila sahaja dapat mematahkan sayap simpatinya yang rapuh. Dia menghindar dan terus menghindar. Akhirnya dia lebih selamat berjalan sendiri.
Selamat berjalan sendiri… Bukankah ramai wanita era pascamoden lebih rela menjadi Zaidah, sebelum Henry Philip Baker ( baca Pulau Renik Ungu dulu ya… )datang dari indera suralaya mengetuk jendela kasih yang nyaris terkunci pateri ?
Rela menjadi Zaidah kerana majoriti ‘Adam-Adam’ yang ada bukan lagi ‘Adam-Adam’ yang pernah menakluki dua pertiga dunia suatu ketika dulu dengan keindahan akhlak dan budi pekerti berteraskan wahyu Illahiah. Rela menjadi Zaidah kerana sedar bahawa wanita sememangnya tidak patut menjadi lilin yang memusnahkan diri demi menerangi orang lain, sebaliknya patut menjadi rembulan yang meminjam kekuatan matahari untuk menerangi malam. Sementelah lagi, kalau hati ‘Adam-Adam’ sudah suka duduk dalam gelap-gelita dan menjauhi cahaya, apa perlunya pada lilin mahupun rembulan ?
Ada pula suara-suara yang menyatakan, “ Alah alasan… ‘Adam-Adam’ cuma manusia biasa… Banyak khilaf sana-sini. Terima sahaja apa yang ada. Nanti berubahlah dia perlahan-lahan.”
Jawapan penulis pada suara-suara itu : Mencegah masih lebih baik daripada mengubati.
Pemerhatian penulis terhadap kisah rumahtangga orang lain sudah lebih dari cukup untuk penulis menyetujui sebuah pendapat yang menyatakan hubungan rumahtangga yang berjaya memerlukan dua orang untuk menjayakannya, dan cukuplah seorang sahaja di antara mereka yang menjahanamkannya. Jika si isteri seorang sahaja yang berusaha sampai habis separuh nyawa tapi si suami sebagai nakhoda yang jahil dan kurang akhlak bersikeras membawa bahtera ke beting pasir, tak jadi juga !
Penulis sukacita mengemukakan kes pengendalian kokpit pesawat oleh juruterbang secara berpasukan sebagai analogi realiti kehidupan berumah-tangga dan pembuktian kebenaran pendapat di atas- cara yang lebih manis dan berakhlak berbanding terang-terangan membuka aib orang-orang yang paling dekat dengan penulis. Penulis mengambil kes insiden perlanggaran yang menimpa pesawat jumbo B747 kepunyaan Pan Am dan KLM di Lapangan Terbang Tenerife, Sepanyol pada tahun 1977. Dalam kes berkenaan, Kapten dalam pesawat KLM tidak mengendahkan teguran pegawai pertama dan jurutera penerbangan yang memberitahunya bahawa mandat perlepasan sebenarnya belum diberikan oleh menara kawalan kepada mereka. Kapten meneruskan perlepasan lalu pesawat mereka terlanggar pesawat Pan Am yang sedang mentaksi masuk ke susur masuk menuju terminal.
Insiden tersebut masih menjadi insiden paling mengerikan pernah berlaku dalam sejarah penerbangan.
Dalam realiti yang terjadi dalam banyak kes rumahtangga sekarang, si isteri berada di posisi pegawai pertama yang komited pada kesejahteraan bersama dan si suami sebagai kapten yang menjahanamkan segala-galanya. Si isteri menjadi lilin yang memusnahkan diri, menelan kepahitan hingga hilang keupayaan mewaraskan suasana atau terpaksa mengidap penyakit kanser pada akhirnya.
Selesai sudah menjawab soalan kenapa… Jadi…
Salahkah menjadi Zaidah jika ‘Adam-Adam’ yang ada pada hari ini cenderung berperwatakan seperti kapten KLM dalam insiden di Tenerife ? Salahkah menjadi Zaidah yang tabah menyendiri santak ke hari kemunculan Henry Philip Baker yang dari jauh penuh pengertian ?
Subhanallah, mewacana-balas satu artikel DSR Erom ini memerlukan siri maraton artikel blogs, kerana persoalannya berpencar, tidak memusat seperti artikel Nisah Hj. Haron atau Rebecca Ilham yang boleh diwacana-balas dalam satu artikel sahaja. Jadi wacana balas penulis ditangguh lagi hingga ke judul yang lain pula.
Wallahualam…
KENAPA NAILOFAR ? April 22, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.5 comments
( Untuk Kekanda Ina Marjanul Ulfah dan Adinda Tuah Sujana yang budiman khususnya, dan untuk mereka yang tertanya-tanya : KENAPA NAILOFAR ? )
Iqbal,
Imtihan Niha’ie semakin hampir.
Aku kini membilang hari.
- Nailofar
Siapakah engkau ?
Iqbal menelan liur. Matanya masih tepat ke monitor.
Hatinya kian geram. Sudah dua kali dia membaca perutusan yang disalinnya dari kantung e-melnya semasa ke kafe siber untuk dibaca menerusi komputernya di rumah. Isi ringkasnya cukup untuk menerangkan bahawa Nailofar seorang yang mengambil benar tentang dirinya.
Walaupun sudah beberapa kali e-mel Nailofar datang bertandang, belum sekali Iqbal membalasnya. Dia sekadar membiarkan, tetapi gadis itu bagaikan tidak jemu-jemu.
” Aduhai, siapakah engkau hai Nailofar?” bisik Iqbal sendiri.
Iqbal menyebut nama aneh itu berkali-kali.
Dia tidak menafikan. Memanglah ia suatu nama yang nian indah. Bagaimanakah agaknya gerangan tuan yang memiliki nama yang sebegitu klasik? Secantik gadis impiannyakah?
( Sesegar Nailofar, Bab 10 m/s 102 )
BAGI yang pernah bertanya kenapa Nailofar dan bertanya apakah penulis telah terpengaruh dengan novel yang telah digarap oleh Zaid Akhtar ini, penulis tidak dapat menafikan bahawa Ismi’ Nailofar yang menjadi nama pena penulis telah mendapat inspirasi dari novel ini.
Bagi mengetahui susur galur jejak kreatif nama pena ini, izinkan penulis meneruskan petikan dari novel ini.
SEMALAM, tanpa disangka, semasa ralit mengulangkaji dia menemui nama itu lagi. Rupanya nama itu sering disebut dalam puisi-puisi Andalusia yang sedang dipelajarinya. Tetapi maknanya, secara tepat dia tidak pasti. Dia tidak dapat mengagak. Apatah lagi puisi-puisi Andalusia lebih payah difahami berbanding puisi Arab biasa mahupun klasik seperti puisi zaman Jahiliyyah, Umaiyah dan Abbasiyyah.
Adakah itu nama seorang perempuan terkenal dan rupawan pada zaman kegemilangan Islam di Sepanyol atau nama sejenis tumbuhan ?
Didorong perasaan ingin tahu yang menunu itu Iqbal lantas mencapai Lisanul Arab, kamus bahasa Arab yang paling akbar pernah dihasilkan. Dia mencari-cari perkataan Nailofar. Malangnya tiada.
Iqbal terdiam sejenak. Berfikir.
Bilakah Lisanul Arab dihasilkan? Adakah sebelum atau selepas pembukaan Andalus? Jikalau Ibn Manzur menyusun kamus ini sebelum Thariq bin Ziad menyeberangi Selat Gibraltar menggempur Kristian Sepanyol bermakna perkataan ” Nailofar” pasti tidak akan ada dalam kamus yang agung ini.
Dia lalu mencapai beberapa kamus lain yang lebih mutakhir. Dan tekaannya tidak meleset. Dia menemukan makna perkataan Nailofar.
Nailofar memang berasal daripada bahasa Andalus, tetapi telah diarabkan. Ia nama kepada spesies bunga yang habitatnya di dalam air. Spesies yang hampir sama dengan lili dan teratai.
Iqbal terkelip-kelip, cuba memikirkan di manakah lojiknya seseorang boleh menyukai nailofar. Apakah simboliknya?
Bunga spesies ini setahunya tidaklah seharum mawar, tetapi kerana hidupnya hanya di dalam air menjadikannya sentiasa segar dan lambat layu. Barangkali kerana kesegaran itulah gadis itu menyenangi bunga ini. Tidak mawar, dahlia, telukis, kemboja, anggerik, dan sebagainya, tetapi nailofar.
Lantas dipilih nama Nailofar, Iqbal beranalogi.
Tetapi, maujudkah gadis Melayu yang menyukai bunga nailofar ?
Belum pernah didengar!
( m/s 102-105 )
Entah kenapa Nailofar- nama yang disebutkan oleh Ustaz Zaid tiba-tiba menggoda-goda benak. Dada penulis berdebar-debar mendengarkan nama itu.
Nailofar memang berasal daripada bahasa Andalus, tetapi telah diarabkan. Ia nama kepada spesies bunga yang habitatnya di dalam air. Spesies yang hampir sama dengan lili dan teratai.
Mudah-mudahan dengan izin Allah, hasil siasatan tentang nailofar dari aspek botanikal bakal menyusul sesudah ini.
( p/s: Jawapan penulis untuk Iqbal : Dengarkanlah, gadis Melayu yang menyukai nailofar memang maujud. Tapi, jika Iqbal inginkan gadis Melayu tulen, maaf. Penulis berdarah kacukan yang bukan Pan-Asia. )
Apabila penulis membuat perenungan tentang mesej yang tersembunyi di balik citra nailofar ini, penulis tersentuh hati lalu penulis memilih bunga ini sebagai perwakilan survival jati diri seseorang, walau di mana dia berada. Nailofar boleh sahaja berada di air kolam atau paya berlumpur, tapi kecantikannya tak tergugah. Sebegitulah manusia sepatutnya, tidak mudah terpengaruh dengan persekitaran yang berbudaya kumal dan bejat, justeru cekal mempertahankan rumah budayanya yang bertiangserikan agama.
Nailofar ini penulis tanggapi secara peribadi, sebagai perlambangan untuk cinta suci dan setia. ( nota : Menjukstaposisikannya dengan bunga mawar, penulis menanggapi mawar sebagai lambang cinta yang melihat dengan pandangan ‘tilam dan bantal’-meminjam kata Ustaz Faisal Tehrani. ) Kenapa ? Nailofar sentiasa segar dan penuh walau tidak disirami air, sedangkan mawar mudah hilang kesegarannya jika tidak selalu disiram dan itu perlu kepada usaha pemugaran yang berterusan. Nailofar juga tidak perlukan duri seperti mawar yang selalu dihampiri oleh tangan-tangan yang ‘sok suci’ gara-gara harumannya yang selalu menggoda-goda di khalayak ramai. Jika haruman nailofar tidak menggoda khalayak untuk memetiknya, apa perlunya nailofar pada deduri ?
Sementelah lagi, cinta berasaskan unsur ‘tilam dan bantal’ selalu dihantui curiga dan sangsi.
Jadi penulis mengambil Nailofar sebagai nama pena. Teruskan lagi dengan susur galurnya…
Sewaktu membaca artikel tentang Orhan Pamuk, penulis terkesan tajuk sebuah novelnya sebegini : My Name Is Red ( Jika ada yang tahu tajuknya dalam Bahasa Turki, tinggalkan sahaja di papan mesej. ). “Nama Saya Merah”. Penulis tertujah dengan tajuk ini, dan terfikir : “ Apa salahnya jika nama pena saya berbunyi, ‘Nama Saya Nailofar’. ?” Penulis tak berhajat mencedok terus frasa My Name dalam bahasa Turki. Jika digabungkan dengan nama Nailofar, aduh !
Lalu dicarilah frasa yang setara dengan frasa ‘Nama Saya’ dalam bahasa Arab. Alhamdulillah, bunyinya Ismi’. Dan jadilah nama Ismi’ Nailofar yang telah menenggelamkan nama Aulia Humaira.
Mudah-mudahan dapat memuaskan hati-hati yang dilanda panasaran. Wallahualam.
Seorang Nik Nur Madihah, Seorang Durratun-Nasuha, Seorang Totto-Chan… April 18, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.1 comment so far
Dan pengumpul ilmu ini,
Selalu berasa
‘antara realiti dan halusinasi’
kenapa dia selalu dibawa menempuh bungkusan masa lalu
yang pekat dan nikmat.
-Siti Zainon Ismail-
( dalam novel Pulau Renik Ungu )
Mukadimah : Tujahan untuk memulakan artikel ini bermula setelah membaca naskhah buku biografi Totto-Chan: Gadis Kecil Di Jendela -garapan Tetsuko Kuroyanagi dan diterjemahkan oleh Shamsudin Jaapar- buat kedua kalinya sejak membacanya pertama kali ketika di Tingkatan Dua. Entah mengapa, imej dan judul buku ini boleh terhimbau di kepala dan menggoda-goda sewaktu penulis berada di kedai buku Dawama Kota Kinabalu -ketika hari terakhir Persidangan Persuratan Dan Kebudayaan Kebangsaan tempohari. Penulis difahamkan yang buku itu sudah habis dijual dan perlu menanti untuk mendapatkan baki stok dari Dawama Kuching. Maka menantilah penulis, bagaikan kekasih yang menanti lamaran dari yang tersayang. Alhamdulillah, buku itu, sungguhpun lama, tapi penulis peluk-peluk buku tersebut sewaktu berjaya memperolehinya, seperti buku itu baru diterbitkan pada tahun ini.
Ketika penulis mula-mula membaca buku ini, penulis terpikat dengan ceritanya, serta hal-hal yang bersifat lateral. Bila pembacaan kali kedua ini, ada perbezaan sedikit ( atau banyak ? ), apabila penulis keharuan sejak awal mula membacanya. Pengalaman sebagai guru kontrak yang berdepan dengan kanak-kanak yang lugu dan berhati luhur di sebalik kenakalan dulu, sedikit sebanyak melonjakkan emosi penulis. Ditambah lagi dengan tertimbulnya isu-isu pendidikan yang ada sekarang. Menggulati ilmu psikologi juga menambahkan penghayatan. Lalu muncullah kembali watak Durratun-Nasuha dari cerpen Titip Doa Buat Durratun-Nasuha, menjengah ruang minda dengan senyum bergula, juga wajah Nik Nur Madihah yang kegirangan di samping ayah dan ibunya. Subhanallah, maka muncullah artikel ini sebagai cermin untuk penulis dan para pembaca melihat refleksi. Seperti cermin yang dikatakan oleh Maulana Jalaluddin Rumi :
“ Engkau tidak terfikir bagaimana sukarnya aku menggelintar hadiah untuk diberikan kepadamu. Tak ada yang benar-benar sesuai. Apakah wajar membawakan emas untuk diberikan kepada lombong emas atau menghadiahkan air kepada laut ? Segala yang aku bawakan untukmu bagaikan membawa rempah-ratus ke Dunia Timur. Memberikan hati dan jiwaku kepadamu tidaklah elok kerana engkau sudahpun mempunyainya. Jadi, aku bawakan buatmu sebuah cermin. Lihatlah dirimu dan ingatlah aku.”
Seorang Nik Nur Madihah, Seorang Durratun-Nasuha,
Seorang Totto-Chan.
Penulis tidak punya hal dengan gadis manis yang telah merangkul 20A dalam SPM lepas dan bercita-cita hendak menjadi seorang ahli fizik ini. Malah tumpang bersyukur. Saya punya keyakinan yang setiap orang diciptakan Allah punya manfaat dan misinya yang tersendiri, tidak sia-sia. Cuma ada sesuatu yang tersirat- mengharukan lagi meresahkan sedang bertandang…
Sejak dulu telah tumbuh trend meraikan dan mengagung-agungkan pelajar pintar/cemerlang seperti Nur Amalina, Adi Putera dan yang lain-lain. Pembaca, kejutkanlah dulu diri buat berapa ketika. Walaupun mereka memang layak diraikan, tapi mereka hanyalah kumpulan terkecil, amat kecil berbanding yang berwatak seorang Durratun-Nasuha ( Sila baca cerpen dalam Dewan Sastera April 2008, untuk mengetahui siapakah Durratun-Nasuha yang penulis maksudkan. ) di sekeliling kita. Dalam sibuk-sibuk kita menjulang itu, tiadakah langkah-langkah awal untuk ‘meraikan’ kehadiran yang kurang pintar/kurang cemerlang pula ? Apakah yang kurang pintar/kurang cemerlang ini sudah tidak ada fungsinya lagi buat negara ?
Tangisan Cikgu Hamizah ( watak dalam cerpen yang sama ) adalah tangisan penulis untuk semua pelajar yang berwatak Durratun-Nasuha. Watak majoriti yang ada di setiap sekolah ( Namun, Durra diakui agak ekstrem dengan masalah perlakuan serta disiplinnya ). Tangisan rasa ketakberdayaan untuk membantu Durra yang diamankan dengan rasa pasrah dan doa. Menunggu keajaiban.
Cikgu Hamizah menangisi nasib Durra. Sebagai kanak-kanak, nasib Durra tidak secerah Totto-Chan. Ibunya tidak berjiwa sebesar yang dimiliki oleh ibu kepada Nik Nur Madihah atau ibunya Totto-Chan. Durra tidak pernah bertemu guru pembimbing setulus Sosaku Kobayashi di Tomoe Gakuan. Dia anak terbiar dengan pelbagai kompleks psikologi serta kekacauan rasa yang dibawa-bawa hingga ke alam remaja. Terdampar di sekolah yang menjulang ‘intan yang tercanai’ seperti Nur Amalina dan Nik Nur Madihah, guru-guru prejudis malah tidak ambil pusing pada Durra.
Tapi, masih ada yang kasih lagi prihatin. Seorang Hamizah, yang kini semakin sukar dicari, sedang kanak-kanak dan remaja yang nakalnya tidak terkawal, sifat penasarannya melebih-lebih dan punya imaginasi luar bendungan yang dirangsang gelombang Global Village semakin bertambah.
Cikgu Hamizah dan penulis sendiri tercari-cari formula apakah yang sebenarnya sangat efektif untuk membendung kemunculan lebih ramai Durratun-Nasuha. Dan formula yang dicari pun tergambarlah seusai pembacaan teks Totto-Chan : Gadis Kecil Di Jendela ( baca : Totto-Chan ).
Antara Ulul Albab Dan Tomoe Gakuan
Sebelum melangkah jauh, elok rasanya penulis memperjelas ulul albab itu apa sebenarnya. Dalam novel Tuhan Manusia garapan Faisal Tehrani, definisi ulul albab dinyatakan seperti berikut :
Ulul albab ialah sekumpulan manusia istimewa yang memperoleh hikmah dan pengetahuan daripada Allah SWT. Mereka merupakan pemikir yang mendapat pelajaran dan dapat membuat keputusan untuk insan lain mengenai kehidupan ini. Mereka adalah golongan yang diberi pedoman seperti yang disebutkan oleh Allah dalam surah Ali Imran ayat 7 : ‘ Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk daripada Allah dan mereka itulah ulul albab’ ( ms 262 )
Dalam novel yang sama, ulul albab mempunyai sikap bersungguh-sungguh mencari ilmu, melalui proses tafakur dan tasyakur, memisahkan yang haq dari yang batil serta aktif membaiki masyarakatnya.
Ulul albab tidak semestinya dapat 20A atau berapa A sekalipun dalam peperiksaan.
Dalam teks Totto-Chan pula, dinyatakan penghargaan Encik Kobayashi- guru besar Tomoe Gakuan-terhadap fitrah kanak-kanak yang suci bersih dan bagaimana mudahnya ia dirosakkan oleh persekitaran dan orang-orang dewasa yang kacau jiwa serta pemikirannya. Encik Kobayashi juga percaya kanak-kanak perlu dibentuk sebagaimana alam berkembang dengan harmoni dan subur. Sebagaimana kepolosan seorang kanak-kanak mudah dicemarkan dengan mesej-mesej salah, sedemikian jugalah kanak-kanak mudah menerima mesej-mesej hasanah.
Ada apa dengan definisi ulul albab dan keyakinan Encik Kobayashi ?
Kedua-duanya mencadangkan agar membentuk ulul albab harus bermula dari kanak-kanak lagi. Sebelum membuat mereka mengenal aksara dari kitab-kitab, mereka dirangsang dengan mendedahkan diri kepada sejenis kitab bernama kitab alam -alam ciptaan Allah SWT- melihat kejadian lalu bertafakur dalam bimbingan guru yang mursyid agar tahu dan kenal Pencipta Sekalian Alam dan seterusnya mengenal hikmah penciptaan manusia dan apa peranannya.
Menjadi ulul albab sebelum memperkembangkan bakat individu anugerah Allah SWT – memasak, memandu, menulis karya, berniaga dan sebagainya- untuk dimanfaatkan buat memakmurkan bumi.
Penulis sebetulnya mengagumi model pendidikan Encik Kobayashi. Ramai muridnya- yang dulunya bermasalah dalam pembelajaran- telah membesar menjadi orang-orang terpandang di alam dewasanya. Encik Kobayashi telah menentang arus konvensional pendidikan Jepun ( yang berorientasikan peperiksaan )di era sebelum Perang Dunia II. Jika model ini diIslamkan dengan menjadikan tauhid sebagai tiang seri dan syariat sebagai sendinya, penulis yakin Islam akan ada Tunas Kepemimpinan, Tunas Cipta dan lain-lain yang potensinya menggerunkan musuh-musuh besarnya. Ya, tanpa mengira siapa dapat berapa A.
Wallahualam…
Jadi ?
Alangkah baiknya jika peperiksaan UPSR itu ditukarkan dengan peperiksaan psikometrik yang sesuai untuk usia kanak-kanak, agar kanak-kanak yang terlibat dinilai personalitinya, bakat individunya lalu dikelompokkan dalam satu kelas yang sama dengan bakat yang sama. Bakatnya dibangunkan secara berterusan hingga dewasa. Dan dari bakat yang dibangunkan itu muncullah kekuatan yang berusaha merubah nasib ummah. Tiada lagi pelajar yang bunuh diri kerana kecewa dengan kegagalan dalam peperiksaan, tiada lagi kompleks kehinaan kerana merasakan diri bodoh dek kegagalan dalam akademik. Tiada lagi Durratun-Nasuha seperti yang diperikan dalam cerpen penulis. Malah populasi kaum Adam akan kembali ramai di kampus, kerana model Kobayashi sebetulnya ( setelah membaca teks Totto-Chan dan mengkaji gaya belajar orang lelaki ) dengan izin Allah mampu menyeimbangkan nisbah lelaki dan perempuan yang belajar di peringkat tertier. Model Kobayashi yang dilaksanakan perlu diperbaiki dengan nilai agama sebagai tiang seri dan sendinya.
Wallahualam…
REDHA… April 18, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.add a comment
Dan boleh jadi kamu benci akan sesuatu, sedang ia lebih baik bagimu; dan boleh jadi kamu kasihi sesuatu, sedang ia melarat kepadamu. Dan Allah mengetahui, tetapi kamu tidak mengetahui.
( al-Baqarah : 216 )
Apakah lagi tinggal selepas kesempurnaan kalau tidak kekurangan ?
-Saidina Umar RA-
Alhamdulillah, analisis bagi cerpen Di Balik Lembut Kerudung Dan Teduh Wajahnya telah keluar di Tunas Cipta April 2009. Berdasarkan kedua-dua kalimah yang telah penulis pilih sebagai pendahuluan catatan ini, penulis sesungguhnya menyatakan keredhaan atas penilaian penganalisis- menyedari ketinggian ilmu sastera dan sikap professional beliau.
Perkara-perkara positif dan negatif dijukstaposisikan penuh hikmah lambang kehalusan peribadi Melayu/Anak Nusantara, bukankah itu KEADILAN namanya ?
Lihat :
http://isminailofar.files.wordpress.com/2009/04/ulasancerpen.jpg
http://isminailofar.files.wordpress.com/2009/04/ulasancerpen2.jpg
Apapun, penulis turut sedar yang analisis sesebuah cerpen boleh jadi berbeza jika disoroti oleh pihak yang berbeza. Misalnya, analisis yang pernah dibuat kepada cerpen Tuah Badan ( cerpen ini ditulis oleh Mad Sakiran Hj. Sulaiman ). Bahagian paling mengejutkan dalam WADAH Mac 2007 itu penulis perturunkan di sini :
Gaya bahasa dan teknik penceritaan penulis yang dikategorikan penulis ‘serba tahu tapi tak tahu’ agak menggelikan hati tetapi ada kalanya memerangkap diri sendiri…
Kecacatan cerpen akibat tidak konsisten ini akhirnya merosakkan keseluruhan mood pembaca. Tujuan asal cerpen yang cuba membentangkan permasalahan tentang perjuangan bangsa yang semakin dilupakan dan bahana perbuatan itu akhirnya tenggelam begitu sahaja akibat teknik yang bercelaru. Akhirnya kesudahan cerpen yang menggambarkan watak ‘aku’ terjaga dari mimpi sudah tidak menjadi suspen kepada pembaca. Hal ini bukan sahaja sudah menghilangkan mood pembaca malah turut menawarkan kegelisahan akibat pengakuan watak ‘aku’ didatangi Dang Bandang dalam mimpi kerana watak ‘aku’ sering terfikir tentang gejala sosial yang melanda masyarakat. Pengakuan itu bukan sahaja tidak pernah disinggung dalam plot sebelumnya malah, jika benar, sepatutnya watak ‘aku’ itu didatangi oleh alim ulama atau kiai yang berupaya membimbing masyarakat ke jalan kebenaran dan bukannya Dang Bandang yang menceritakan kesaktiannya tidak dapat memijak tanah.
( m/s 61 )
Jika penulislah yang duduk di tempat Pak Mad Sakiran, tak tahulah apa jadi !
Uniknya, sebagai kajian kes, cerpen ini telah dipilih oleh juri sebagai pemenang Hadiah Sastera Sabah 2006/2007 kategori Cerpen pada tahun 2008. Analisis juri terhadap cerpen ini penulis lampirkan untuk perbandingan :
Cerpen Tuah Badan mengangkat peristiwa sejarah dari sisi yang jarang diperkatakan. Cerpen ini menonjolkan peranan besar dan penting Dang Bandang dalam perjuangan suaminya Paduka Mat Salleh, seorang pejuang besar Sabah dalam menentang kolonialisme Inggeris di Sabah…. Cara dan gaya cerpen ini membongkar sejarah perjuangan Paduka Mat Salleh melalui siri ketokohan Dang Bandang adalah satu perkara yang amat menarik. Kelainan ini membuatkan cerpen ini wujud sebagai hasil karya yang lebih bermakna.
( Antologi Di Sebalik Cermin, m/s xxv )
Oleh itu, penulis belajar untuk menjadi optimistik dan redha bahawa analisis untuk cerpen DBLKDTW adalah yang terbaik dalam takdir Allah SWT.
Kata-kata ADUN Membakut, YB Hj Dato’ Ariffin Arif turut menjadi suntikan motivasi paling bermakna untuk penulis berlapang dada.
Wallahualam…
“ Kapalterbang Aku.”- Mengapa Sully Mungkin Menjadi Juruterbang Terakhir Yang Muncul Dari Jenisnya. Mac 25, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.Tags: Dunia penerbangan/Aviation
add a comment
Nota penulis/penterjemah ( pindaan 18 April 2009 ) :
Sungguhpun artikel ini diperolehi dari Kesatuan Juruterbang Syarikat Penerbangan Amerika Syarikat- lewat laman blog askcaptainlim.com, penulis sesungguhnya bukanlah individu yang pro-Barat atau pro-Amerika. Penulis sendiri menentang hegemoni Barat dan sebarang cubaan untuk mencedok bulat-bulat dari Barat tanpa penapisan dan pengadaptasian dengan tiang seri rumah budaya kita. Penulis cuma berlaku adil dengan ilmu pengetahuan yang tersurat dan tersirat dalam artikel di bawah tentang dunia penerbangan -yang masih misteri bagi kebanyakan pembaca yang cenderung kepada benda-benda klise. Ada terselit secara subtle kesan krisis Amerika pasca-Superman, Batman dan Spiderman : rasa benar-benar terdesak untuk mencari wira baru ( krisis yang pernah ditimbulkan teman penulis –Rebecca Ilham dalam cerpennya Wira ) untuk dijulang dalam tenatnya situasi ekonomi yang Amerika hadapi. Ada tanda kekuasaan Allah dan Kun fayakun yang perlu kita renungi. Sejujurnya, reputasi Sullenberger sebagai juruterbang benar-benar memacu semangat juang penulis untuk terus berkarya. Betapa golongan juruterbang –tak kira siapapun dia- memang untuk layak mendapat penghormatan penulis sejak dulu.
Ilmu dan hikmah yang ada sememangnya hak kita. Apa salahnya menterjemahkannya dari Bahasa Inggeris lenggok Amerika ke Bahasa Melayu dengan langgam Melayu Malaysia untuk dikongsi bersama ?
Sebelum meneruskan pembacaan ke artikel ini, penulis dengan sukacitanya mempersilakan pembaca merenungkan pendapat Dr. Sidek Baba yang dipetik dari buku Fikir Dan Zikir :
Golongan remaja memerlukan kemahiran berfikir. Tidak salah sekiranya remaja mempunyai fikiran kritikal, reflektif, analitikal, lateral, strategik, kreatif dan pelbagai lagi asalkan sumber dan sandarannya diambil daripada nilai-nilai yang baik dan bermanfaat. Kekaguman remaja kepada cara orang Barat berfikir dibimbangi menghilangkan asas berfikir Islami daripada jiwa mereka. Orang Barat berfikir kerana berfikir adalah alat dan matlamat hidup mereka. Umat Islam dianjurkan oleh Allah SWT berfikir tentang diri, tentang Maha Pencipta, tentang persekitaran dan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Orang Barat berfikir mengenai sesuatu hanya dalam batasan benda. Mereka berfikir tentang kejadian, fenomena dan peristiwa dalam batasannya. Sebaliknya umat Islam bukan sahaja berfikir tentang benda, kejadian, peristiwa dan fenomena tetapi mengaitkannya dengan kejadian, penciptaan dan hikmah di sebalik kejadian. Mereka bukan sekadar mengaitkan semua itu dalam batasan biologi, geologi dan sebagainya tetapi menghubungkannya dengan takdir, musibah dan mehnah. Tujuannya supaya gambaran al-Quran tentang kisah dan ibrah menjadi sesuatu yang sentiasa hidup dan menjadi teladan serta peringatan bagi manusia terkemudian, khususnya yang melampaui batas.
Artikel asal : “ My Airplane.” – Why Sully May Be The Last Of His Kind- New York Magazine
Oleh: Robert Kolker
Feb 1, 2009
( Diterjemahkan oleh Ismi’ Nailofar )
Aktiviti menerbangkan pesawat secara moden dibuat dalam rutin. Beratus-ratus daripada jutaan jam telah dihabiskan untuk menganalisis semua natijah yang boleh terjadi ekoran dari satu-satu tindakan, mengeluarkannya dari senarai risiko dan menyenaraikan apa yang patut dilakukan pada apabila ada sesuatu yang tak kena terjadi dalam kejadian yang jarang berlaku. Pada tengah hari Januari 15, Chesley B. Sullenberger III sedang mengikuti rutin tersebut. Beliau melaporkan diri untuk bertugas di Lapangan Terbang La Guardia pada waktu bertugas. Beliau mengimbas data pra-penerbangan yang piawai : angka berat dan keseimbangan; jumlah minyak yang perlu untuk pergi ke Lapangan Terbang Charlotte, Carolina Utara; perlepasan, pendakian dan laju menjajap pesawat. Beberapa saat sebelum 3:25 petang, menara kawalan membenarkan Penerbangan 1549 US Airways untuk berlepas. Pegawai Pertama yang bertugas bersama-sama Sully, Jeffrey Skiles, menjadi pengendali penerbangan. Mereka telah saling berbincang dan giliran untuk menerbangkan pesawat diberi kepada Skiles. Skiles menghidupkan pendikit. Sully menyebutkan laju yang sesuai. Dan pada pukul 3:25, mereka terbang di atas ruang angkasa Bronx, mara menuju ke Biggy Intersection, tetapan pandu arah di atas New Jersey yang membawa mereka keluar dari kawasan trafik udara Newark. Dari Biggy, mereka melencong ke arah selatan, di atas D.C. menuju ke Carolina Utara. Pengawal trafik udara memberi kebenaran kepada mereka untuk mendaki ke 15 ribu kaki. Sully memakluminya. Langit cerah dan tenang. Bagi Sully, penerbangan ini merupakan penerbangan terakhir dalam masa empat hari tempoh minggu kerjanya. Langit yang cerah dan tenang itu mempunyai semua yang diperlukannya untuk penerbangannya berjalan lancar.
Sully melihat sekumpulan burung sesaat sebelum mereka melanggar sekumpulan besar darinya –pada pukul 3:27. Beliau mendengar bunyi, “ Thump !” yang bertalu-talu. Dan dia terhidu baunya. Di tempat yang dia tidak silap duga. Setiap juruterbang yang mempunyai cukup jam penerbangan pernah menghidu bau burung terbakar. Di mana seringkali tidak lebih dari serangan burung berbanding apa yang dihadapi Sully–barangkali suatu bunyi tersekat-sekat yang kecil dalam deruman enjin sebelum pesawat terus mendaki. Namun, ia berbeza kali ini. Kali ini, pesawat tersenggut-senggut dan suasana senyap. Sully mungkin telah melalui sesuatu seperti itu lama dahulu sebagai pelatih, apabila jurulatihnya bingkas menjengah lalu menggerakkan pendikit kepada keadaan kaku agar menyerupai keadaan hilangnya kuasa enjin, kemudian bertanya, “ Baiklah, sekarang awak nak buat apa ?”. Tetapi keadaan yang dihadapinya sekarang bukanlah satu latihan. Ini merupakan kegagalan enjin yang benar-benar berlaku-pada kedua-dua belah enjin. Sully berada 3200 kaki di udara, tanpa kuasa tujah, melayah perlahan-lahan dengan 150 penumpang dan empat lagi krew di dalam pesawat. Kapten mengambil alih kawalan pesawat buat julung-julung kalinya hari itu.
“ Kapal terbang aku[1].” , kata Sully.
“ Kapal terbang awak[2]”, sambut pegawai pertamanya.
Juruterbang mempunyai peraturan yang harus diikuti, hatta pada keadaan pesawat yang akan terhempas, dan Sully menetapkan pendirian untuk mengikutinya. Dia menurunkan muncung supaya pesawat akan meluncur, tidak menjunam pantas. Beliau mengarahkan pegawai pertamanya untuk memulakan senarai semak prosedur tiga mukasurat untuk menghidupkan semula enjin, sungguhpun dia telah tahu dengan pasti bahawa perbuatan itu sia-sia cuma. Beliau menghubungi pengawal trafik udara untuk melaporkan kejadian serangan burung.
“ Ah, ini Cactus 1549, terlanggar burung, kami kehilangan daya tujah pada kedua-dua enjin. Kami hendak berpatah balik ke La Guardia.”
Pengawal mengarahkan menara kawalan La Guardia untuk menghentikan semua perlepasan pesawat.
“ Itu dia ( Penerbangan –penterjemah )1549. Serangan burung. Ia kehilangan daya tujah enjin. Ia sedang berpatah balik dengan segera.”
Waktu itu pukul 3:28 petang.
Juruterbang telah diajar untuk berfikir sebegini ketika mendarat cemas : jika anda perlu mendarat cemas, anda perlu mendaratkannya di lapangan terbang terdekat. Namun Sully tak punya masa untuk itu. Beliau telah kehilangan kuasa pesawatnya selama seminit; dia kini telah melayah jatuh di bawah arah 3200 kaki.
Pengawal bertugas bertanya seandainya Sully ingin mendarat di landasan 13 La Guardia. Sully membalas : “ Kami tak mampu. Kami mungkin akan mendarat di ( sungai- penterjemah ) Hudson.”. Mendarat di Teterboro juga bukanlah suatu kemungkinan. Beliau dapat melihat lapangan terbang di New Jersey itu pada luar jendelanya dan tahu bahawa jaraknya terlalu jauh. Peraturan yang ada sudah tidak berguna lagi. Sully ketiadaan buku panduan untuk mendapatkan petua dan pelangkah, sungguhpun beliau menginginkannya. Tiada seorangpun dari juruterbang dalam era penerbangan jet moden telah benar-benar berjaya melakukan pendaratan di atas air. Modul latihan dalam simulator penerbangan juga langsung tidak memberikan situasi tersebut sebagai salah satu keadaan yang perlu dihadapi oleh pelatih.
Dia membelokkan pesawat ke selatan dari Bronx untuk meletakkannya sejajar dengan Sungai Hudson. Jambatan George Washington berada lurus di hadapan. Sully memetia kedudukan sungai tersebut dengan cara yang sama beliau memetia Teterboro, memutuskan sama ada beliau dapat mendarat di atasnya. Dia dapat, hanya dalam jarak 900 kaki. Beliau kemudiannya perlu mengira lereng luncurannya, dan memikirkan cara untuk menceburkan pesawat ke permukaan air pada sudut yang sesuai dengan cermatnya agar muncung pesawat mendongak dan tiada satupun dari sayap pesawat yang terkena air. Jika muncung atau hujung sayap terkena permukaan air tatkala beliau menceburkan pesawat, pesawat boleh terbalik, terputar mahupun terpatah dua.
Waktu itu sudah pukul 3:29 petang. Sully melihat sebuah bot di atas sungai. Beliau mahu merapati bot berkenaan supaya penumpang dapat dikeluarkan dari bangkai pesawat. Beliau melakukannya dengan apa yang beliau ada. Tanpa menggunakan enjin, beliau menggerakkan kelepak pesawat memadai untuk mengawal kelajuan-cukup untuk mengurangkan impak, namun tidak terlalu perlahan sehingga pesawat terjunam seperti batu seberat 50-tan. Dan dengan 90 saat yang berbaki, beliau membuat komunikasi buat pertama kali kepada para penumpang penerbangan 1549.
“Brace for impact.”
( Gambar Hiasan ) Insiden Membabitkan Pesawat Yang Dipandu Sully Di Sungai Hudson
Bagaimanakah syarikat penerbangan yang ada telah berubah sejak zaman Chuck Yeager dan Pan Am.
Namun, pesawat yang dikendalikan Sully saat itu bukanlah berada dalam kawalannya secara mutlak. Apabila Chesley B. Sullenberger III mula bekerja sebagai juruterbang, 40 tahun dan 19, 663 jam penerbangan yang lalu, golongan juruterbang komersil dipandang seumpama sang dewata. Zaman itu zaman Chuck Yeager [3]dan Pan Am[4], dan seorang kapten dalam pakaian seragamnya merupakan golongan yang ada kelasnya tersendiri, setaraf dengan para pelakon Hollywood dan atlit professional. Pekerjaan ini penuh prestij dan dibayar lumayan; kanak-kanak mahu melawat ke geladak penerbangan, lalu membesar dengan cita-cita untuk menjadi juruterbang. Dan pada Khamis Januari yang ceria tapi dingin itu, era juruterbang perwira kembali lagi, hidup buat berapa ketika, apabila Sully melayahkan pesawatnya di tengah-tengah Sungai Hudson lalu menjadi juruterbang pertama yang melaksanakan pendaratan atas air yang terkawal dengan menggunakan pesawat komersil moden, tanpa kehilangan nyawa hatta seorangpun. Pemartabatan Sully ( setara dengan yang diterima juruterbang era Chuck teager dan Pan Am ), yang bermula begitu mendadak sejak hari pemasyhuran Presiden Barrack Obama hingga ke Super Bowl dan berkesinambungan santak ke minggu hadapan, apabila juruterbang Penerbangan 1549 ini dijadualkan untuk tampil dalam siri televisyen 60 Minutes dan David Letterman.
Hakikatnya, dalam tahun-tahun yang berlalu sejak Sully mula menerbangkan pesawat komersil, menjadi juruterbang telah tidak lagi dianggap kerjaya yang glamour. Automasi telah mengambil-alih banyak dari tugasan menerbangkan pesawat. Masalah yang menimpa perniagaan syarikat penerbangan telah menyebabkan juruterbang bekerja dengan waktu yang lebih panjang dan gaji yang lebih rendah. Menerbangkan pesawat kini dikawal oleh begitu banyak peraturan dan undang-undang yang boleh memenuhi beberapa jilid ensaiklopedia. Mereka yang tertarik pada profesion ini juga berbeza. Satu ketika dahulu, tugas menerbangkan pesawat komersil dibuat oleh bekas tentera udara yang kebanyakannya veteran tempur udara, kini telah diisi orang awam yang menganggap menerbangkan pesawat sebagai pekerjaan semata-mata dan keseronokan dikira faktor terkemudian. “ Dua puluh lima tahun dulu, kami selangkah di bawah tangga berbanding angkasawan,” ujar seorang juruterbang veteran. “ Sekarang ini kami selangkah di atas tangga berbanding pemandu bas. Dan pemandu bas mempunyai pencen yang lebih baik.”
Dari sudut pandangan seorang penumpang, perubahan sebegitu banyak kebaikannya. Setiap tahun, beratus-ratus daripada jutaan penduduk menggunakan perkhidmatan udara komersil di AS, dan bilangan mereka yang terbunuh kerana nahas udara sering hampir-hampir dalam angka dua digit yang rendah. Dalan tempoh dua tahun yang lalu, langsung tiada yang mati sama sekali. Perubahan dalam cara juruterbang dikaderkan dan dilatih merupakan sebab utamanya : Dalam kebanyakan situasi, pakar keselamatan penerbangan berkata, anda inginkan mereka yang ikhlas berkhidmat untuk syarikat, bukannya koboi[5]. Namun ada beberapa pengecualian, seperti keajaiban yang terjadi di Sungai Hudson- detik-detik yang jarang berlaku iaitu apabila juruterbang memilih untuk mengikut peraturan dan tidak mengkesampingkannya, tindakan sedemikian menjadi tindakan yang mengandungi risiko. Juruterbang seperti Sully yang boleh bertindak dalam persekitaran sedemikian merupakan golongan yang ‘diancam kepupusan’.
Sully telah berada dalam mandala perniagaan ini begitu lama untuk menyaksikan perkembangan sebegini, sejak pertama kali perubahan tersebut berlaku. Dahulu, juruterbang sebahagian besarnya merupakan anak peladang yang tidak berpendidikan atau anak pekerja kolar biru yang meninggalkan rumah untuk menjadi wira perang. Sebahagiannya mungkin tidak pernah menghabiskan masa di sekolah juruterbang atau membaca manual penerbangan. Namun, apabila perjalanan udara komersil berkembang pesat, syarikat penerbangan mengambil citra seorang kapten wirawan, lelaki yang punya aura tersendiri dalam pakaian seragam yang anda boleh percayai sepenuhnya. Industri ini membayar lumayan untuk mendapatkan khidmat juruterbang generasi baru yang berpendidikan akademik tentera, sebahagian besarnya pernah berkhidmat di Vietnam. Generasi ini merupakan generasi di mana Sully bermula. Pada tahun 70-an, sebanyak 80 peratus dari juruterbang komersil pernah berkhidmat dalam angkatan tentera. “ Apabila Sully mula-mula diambil bekerja,” ujar Keith Hagy, pengarah kejuruteraan dan keselamatan penerbangan bagi Persatuan Juruterbang Syarikat Penerbangan, kesatuan juruterbang, “ Beliau mungkin telah dibayar begitu lumayan.”
“ Syarikat penerbangan menyukai juruterbang tentera, sebahagiannya kerana kerajaan telah melakukan semua ikhtiar yang perlu untuk mereka,”, kata Don Skiados, yang pernah bergerak-kerja dengan golongan juruterbang selama 40 tahun sebagai mantan pengerusi Badan Akreditasi Penerbangan Antarabangsa. Angkatan tentera telahpun menguji keupayaan juruterbang dari segi psikologi, kecenderungan emosi, asas pengetahuan, masa tindakbalas dan keupayaan membuat penilaian. Hambatan tunggal yang wujud dari latar belakang ketenteraan adalah juruterbang tentera dilatih seperlunya untuk menjadi pengambil risiko. “ Pendekatan untuk misi ketenteraan ialah konsep ‘ Ini adalah peperangan’ ”, kata Bob Ober, yang telah bekerja sebagai juruterbang untuk Pan Am selama 25 tahun dan untuk Delta selama sedekad. “ Redah sahajalah. Tak kisahlah jika ada hal yang tak beres, kami akan ambil risiko.”
Sejak itu, budaya yang melingkari profesi juruterbang telah berubah 180 darjah. Juruterbang tentera telah memberi laluan kepada kadet-kadet yang dilatih untuk menjadi profesional- Kapten yang tahu bagaimana untuk mengetepikan ego dan tidak mengambil risiko yang tak perlu. Perubahan bermula apabila angkatan tentera mula mengecil seusai Perang Vietnam dan kolam bakat juruterbangnya mengering. Ruang yang dikosongkan juruterbang tentera diisi oleh generasi juruterbang yang sebahagian besarnya dididik di sekolah juruterbang yang menawarkan program ijazah selama empat tahun. Calon mengumpulkan jam penerbangan mereka dalam pesawat komuter kecil yang terbang antara Albuquerque dan Toledo, bukan dalam jet pejuang.
Pesawat udara juga mula berubah. Apabila juruterbang era Vietnam mampu terbang lebih tinggi dan jauh, atau sebaliknya menggunakan turus kawalan dan kemudi, juruterbang masakini terbang berbantukan komputer. Sully, sebagai contoh, menerbangkan Airbus A320. Dalam pesawat yang teknologinya lebih lama, juruterbang menarik turus kawalan yang disambungkan dengan kabel ke arahnya, yang secara literal menarik pesawatnya ke atas. Dalam pesawat Airbus A320, beliau menarik ke belakang joystick yang menghantar isyarat kepada pendikit automatik komputer. Jika beliau berkhilaf, komputer sering memperbetulkannya, menujah jika beliau tidak melakukan hal tersebut secepatnya, tidak akan menegunkan pesawat jika beliau menarik pesawat terlalu kuat. Perlepasan pesawat mempunyai laju yang telah diprogramkan; juruterbang hanya perlu menggerakkan tuil pendikit ke takuk yang perlu. Secara praktisnya, Airbus menganggap faktor khilaf manusia sebagai perkara paling bahaya ketika menerbangkan pesawat. Yang mengagumkan, anda boleh mengunakan juruterbang automatik pada ketinggian serendah 100 kaki di udara. Walaupun sebahagian kecil dari golongan juruterbang berasa resah akan keterbergantungan yang amat sangat terhadap teknologi dan kehilangan tumpuan -yang kebanyakannya bersifat bagaikan berdepan dengan pesawat yang sedang ‘ mempermain-mainkan juruterbang’- natijah dari keterbergantungan tersebut. Namun, tidak wujud pula pihak yang mula menimbulkan polemik yang menyatakan automasi telah mengambil alih kawalan daripada juruterbang. Hal yang sama juga berlaku kepada pengawal trafik udara dan operasi syarikat penerbangan. Sebelumnya, juruterbang memandu arah sendiri penerbangan pesawatnya, kini aktiviti pandu-arah pesawat dibuat dengan sistem GPS. Juruterbang lebih banyak menggunakan budi bicara tentang masa berlepas dengan keputusan dari pihak penyelenggaraan suatu waktu dahulu; kini mereka seringkali menolak dari menggunakannya.
Apa yang membezakan juruterbang yang hebat dari juruterbang yang gagal ?
Kedudukan industri penerbangan komersil juga telah mengecilkan status juruterbang komersil. Zaman moden yang menyaksikan penggabungan beberapa buah syarikat penerbangan dan ancaman kebangkrapan serta kenaikan kos bahan api membawa makna bahawa juruterbang menghadapi jadual tugas penerbangan yang menjadi lebih lama, pembekuan elaun dan pemotongan pencen. Kini, gaji permulaan bagi sebahagian dari syarikat penerbangan yang ada serendah AS$25,000. Rancangan persaraan Sully telah ditarik balik sewaktu kebangkrapan menimpa syarikat penerbangan tempat beliau pernah bekerja, dan pembayaran gajinya hanya meningkat sebanyak 6 peratus dalam tempoh dua dekad. “ Golongan juruterbang komersil telah dilayan seperti komoditi,” ujar Gary Hummel, pengerusi jawatankuasa pelatihan bagi Kesatuan Juruterbang Syarikat Penerbangan US. “ … sampailah anda perlukan mereka untuk mendaratkan pesawat di atas Sungai Hudson. Dan anda pun berkata, ‘ Hey, pekerjaan sebagai juruterbang ini lebih dari sekadar menerbangkan pesawat !’ ”
Para juruterbang dan para penasihat perundangan bagi mereka merasai keresahan akan kemungkinan pupusnya bilangan juruterbang yang hebat dari sistem yang ada sekarang. “ Saya mempunyai seorang anak lelaki berumur 27 tahun yang menjadi jurutera perisian,” ujar Hummel. “ Saya mempunyai seorang anak perempuan yang berumur 25 tahun yang menjadi jururawat professional. Mereka menamatkan pengajian dari universiti yang baik. Mereka berdua pernah menerbangkan pesawat, tetapi saya memberitahu mereka, ‘ Carilah kerja lain, sebab kamu takkan dapat menyara keluarga kamu atau terus berkerja dengan kerja ini sampai kamu pencen.’ Anak perempuan saya mendapat gaji yang lebih lumayan dalam tahun pertamanya sebagai jururawat berbanding apa yang Jeff Skiles, pegawai pertama yang membantu Sully sewaktu bertugas menerbangkan Penerbangan 1549, dapat setelah bekerja dengan setia selama 18 tahun pada US Airways. Apa halnya saya nak galakkan anak saya menjadi juruterbang professional pula ?”
Golongan juruterbang menghadapi hambatan untuk menimbulkan isu tentang kesan-kesan yang bakal timbul kesan perubahan yang berlaku sekarang, disebabkan rekod keselamatan banyak syarikat penerbangan yang baik dan menarik perhatian pada masa kini. “ Anda pergi menyatakan pendapat dan berdebat dengan khalayak umum atau para CEO yang hal-hal ini boleh mendatangkan impak bagi keselamatan pesawat dalam hal-hal tertentu.”, kata Bob Ober. “ Statistik yang ada membuatkan usaha kami menjadi susah. Untuk menimbulkan isu ini pada seseorang yang tidak mengetahui dengan dalam akan operasi sehari-hari, yang tidak pernah duduk di dalam geladak penerbangan dan melihat sendiri bagaimana juruterbang bekerja. Tapi orang-orang yang bekerja dalam industri ini kena bersuara juga.”
( Gambar Hiasan ) Dua Wajah, Dua Zaman : Sullenberger Ketika Zaman Mudanya di Kolej Tentera Dan Ketika Menerima Anugerah Penghargaan Sewaktu Hari Pemasyhuran Barrack Obama Sebagai Presiden AS.
Jadi, apa yang akan terjadi apabila perkara yang tidak dijangkakan berlaku ? Apa yang memisahkan seorang juruterbang yang hebat-sehebat Sully-dari seorang juruterbang yang gagal lalu terkena geruh, ketika suasana cemas berlaku ?
Kekal bertenang jelas merupakan faktor penting, tapi mengapa ? Pada tahun 1989, Penerbangan 232 United Airlines, sebuah pesawat DC-10 yang dipandu oleh Kapten Al Haynes, terhempas dalam ikhtiar pendaratan cemas di Lapangan Terbang Sioux City, Iowa. Pesawat tersebut telah kehilangan satu enjin dan tiga sistem hidrauliknya, pendaratan cemas terpaksa dilakukan. Ketika kejadian tersebut berlaku, 185 orang telah terselamat. Sebahagiannya, mengawal diri merupakan sesuatu yang membantu Kapten Haynes untuk berasa tenang. Ujar beliau, “ Panik tidak akan membawa kebaikan. Pada hari pertama anda menerbangkan pesawat anda, anda sudah tahu jika anda berasa panik, anda mati sebelum anda benar-benar mati.” Bukan hanya kerana tugas menerbangkan pesawat ini untuk mereka yang cenderung untuk menangani stress secara efektif, tetapi industri penerbangan telah membangunkan sistem yang sofistikated untuk meneliti calon yang tidak jarang mengawal dirinya. “ Ketika saya diambil bekerja,” kata seorang juruterbang komersil yang telah bersara, “ Anda diambil bekerja berasaskan kelayakan anda, keputusan temuduga yang anda lalui dan itulah. Sekarang anda melihat cara syarikat penerbangan menapis senarai akhir calon juruterbang, anda ada ujian psikologi untuk dilalui, anda ada proses temuduga untuk dilalui dengan soalan-soalan yang amat sofistikated.’
Ribuan jam latihan juga membantu juruterbang untuk bersikap alah bisa tegal biasa pada stress yang mereka hadapi. Ujar Haynes, “ Dengan menjalani latihan semula secara berterusan, dan melalui segala macam situasi masalah serta melakukan segala langkah penyelesaian dengan tenang dan efisien, masalah yang mungkin wujud nanti sudah menjadi kebiasaan anda dengan sendirinya. Jadi bila tiba harinya, bila sesuatu yang tak kena benar-benar berlaku, benda tu sudah menjadi darah daging anda dan anda cuma lakukan penyelesaiannya.” Simulator pesawat yang terkini mampu menawarkan situasi yang menyamai hampir semua realiti situasi cemas yang ada. “ Ia sebetulnya lebih sukar untuk diterbangkan berbanding pesawat sebenar, jadi bila anda mampu menerbangkan simulator pesawat, sudah tentu anda boleh menerbangkan pesawat sebenar.”
Dalam tahun-tahun kebelakangan ini, paradigma lama tentang juruterbang yang beraksi menyelamatkan pesawat secara sendirian telah disangkal dengan mengutamakan prinsip kerjasama yang bersungguh-sungguh. Pendekatan sebegini dikenali sebagai Crew Resource Management, dan ia dilihat sebagai elemen kritikal yang lain, yang mampu untuk menangani kirisis dengan jayanya. Kes United Penerbangan 232 diajarkan sebagai kes kajian CRM. Denny Fitch merupakan seorang gurulatih penerbangan dan pemeriksa juruterbang yang menjadi penumpang Penerbangan 232 secara kebetulan. Apabila Fitch memaklumkan kepada krew di dalam geladak penerbangan bahawa beliau benar-benar mengetahui bagaimana sistem dalam pesawat DC-10 beroperasi, Haynes membawanya ke hadapan dan beliau serta krew yang lain berkerjasama dengan Fitch. “ Kapten yang lain barangkali bercakap seperti ini, ‘ Kenapa awak tak duduk diam-diam sahaja ? Aku sibuklah di sini !’ ulas Gary Hummel. “ Tapi Kapten Haynes berkata sebaliknya, ‘ Sudah tentu saya akan dapatkan apa sahaja pertolongan yang saya boleh perolehi.’ ” Hanya dengan bergerak-kerja bersama-Fitch mempunyai pengetahuan tentang sistem hidraulik pesawat DC-10 yang terbukti kritikal- barulah Haynes serta krew yang lain dapat mencerakinkan penyelesaian yang efektif. “ Jika anda membaca transkrip perbualan dalam kokpit, anda akan dapati pertengkaran tidak berlaku sama sekali,” tambah Haynes. “ Tak ada siapapun yang benar-benar tahu apa yang perlu kami lakukan, dan kami cuma bekerjasama untuk mencari jalan macam mana hendak mendaratkan pesawat. ”
Seterusnya : Mengapa juruterbang yang lain menyimpan rasa segan akan Sully ?
Syarikat penerbangan yang ada telah membuat kesimpulan sejak itu, bahawa juruterbang dan krew yang kurang berkomunikasi saat krisis berlaku merupakan mereka yang paling mungkin untuk gagal, dan CRM kini menjadi suatu bahagian dalam latihan penerbangan yang piawai. Penerbangan yang dibuat dalam simulator malah dirakamkan secara audio-visual dan dikritik demi memaksimumkan kerjasama yang terjalin sesama juruterbang serta antara juruterbang dan krew kabin. “ Sewaktu proses soal-balas bagi mendapatkan maklumat tentang latihan yang telah dijalankan,”, kata Hummel, “ anda sebenarnya duduk bersama-sama dengan Kapten dan juruterbang bersama yang bergandingan dengannya lalu berkata, ‘ Hei, bila anda menghadapai situasi cemas, dan anda memandang pembantu anda dan memberitahunya, ‘ berikan saya gear pendaratan sekarang’- bagaimana mesej tersebut sampai padanya ?’ Dan juruterbang bersama tersebut boleh berkata, ‘ Baiklah, dia ( Kapten ) ni dari jenis yang membuatkan saya hilang semangat. Cara dia bercakap dengan saya semacam dia ni tengah bertempik pada saya.’ Dan Kapten tersebut mungkin duduk semula lalu berkata pada saya, ‘ Awak tahu tak, yang saya tak tahu bahawa saya telah menyampaikan mesej pada pembantu saya seperti orang buruk perangai ? Saya sepatutnya boleh berkata padanya, “ Hei, boleh tolong berikan saya gear pendaratan ?” lalu boleh membabitkan dia sebagai rakan sepasukan dan membuatkannya lebih merasakan bahawa dirinya sebahagian dari pasukan saya.’”
Dalam masa yang sama, seseorang juruterbang perlu mengetahui bilakah dia patut mengambil alih tugas menerbangkan pesawat sendiri dan bertindak tanpa disertai sebarang petua dan pelangkah dengan bersahaja. Al Slader merupakan juruterbang bersama dalam penerbangan 811 United Airlines – yang merupakan sebuah pesawat 747 yang sedang dalam penerbangan dari Honolulu ke New Zealand dalam tahun 1989 –apabila sebuah sistem yang mengunci pintu kargonya gagal lalu meletupkan keluar kerusi penumpang yang ada dalam beberapa barisan. Dengan lubang besar di sisi pesawat mereka, krew penerbangan 811 masih mampu membuat pendaratan cemas kembali ke Hawaii. Sembilan penumpang maut, tetapi 346 yang lain terselamat. “ Kami mempunyai dua enjin yang tidak berfungsi, nombor dua dan empat, pada sisi yang sama,” kata Slader. “ Kami akan terhempas, cuma tak tahu di mana tempatnya.” Prosedur yang diberikan United Airlines untuk kerosakan enjin yang teruk ialah untuk menarik firewall shutoff, tambahnya lagi. “ Jika saya berbuat demikian, kami akan kehilangan dua sistem hidraulik.” – separuh dari kawalan penerbangan pesawat-“ dan kami akan terhempas di dalam air. Tapi saya tidak melakukannya.”
Dalam situasi kecemasan, Denny Fitch memberikan pendapat, “ Anda perlu terus hidup dengan apa yang anda boleh gunakan dalam buku panduan, jika tiada di dalam buku gunakan pengalaman, kemahiran dan kebitaraan sebagai juruterbang. Anda hanya perlu memberikan jawapan anda sendiri untuk masalah yang tiada sesiapapun memikirkannya sebelum itu.” Rasa optimis gaya lama juga boleh membantu, Fitch menambah. “ Pendirian saya sejak insiden itu mula berlaku adalah pendirian bahawa kami tidak akan terhempas,” kata beliau. Beliau mempunyai visi yang jelas bagi natijah yang diinginkannya : “ Kami akan berjaya mendaratkan benda ini, dengan roda yang sudah diturunkan, melesat di atas landasan lalu kami menghentikannya. Pintu kecemasan dibuka, tangga gelongsor diturunkan dan 296 orang dalam pesawat menggelongsor keluar dengan selamatnya. Lalu kami pergi mendapatkan pengangkutan darat, pergi ke bar yang paling hampir dan saya minum-minum[6].”
Apabila anda melanggar peraturan, tindakan anda haruslah kena pada tempatnya. Saking hal sedemikianlah juruterbang yang lain menyimpan rasa segan pada juruterbang seperti Haynes, Slader dan Sully di dunia ini. “ Golongan juruterbang merupakan mereka yang melakukan aksi on-off dengan suis yang ada.”, kata Jack Stephan, seorang lagi juruterbang US Airways. “ Kami melalui proses membuat keputusan, melalui prosedur dan latihan serta senarai semak, dan juruterbang pun tahu apa yang perlu dibuat. Kapten Sullenberger telah mempamerkan gaya menerbangkan pesawat yang perlu, apabila senarai semak benar-benar tak dapat menyelesaikan situasi yang ada. Tak ada cara untuk melatih juruterbang bagi menghadapi apa yang dihadapinya. Ini benar-benar adikarya seni menerbangkan pesawat. ”
Dikurniakan nasib baik juga merupakan satu faktor. Ia benar-benar bagaikan tikus yang jatuh ke beras apabila Sully pernah dilatih sebagai juruterbang pesawat luncur. Langit yang cerah dan kurang berangin pada hari tersebut juga telah membantu. “ Jika Sully berada lebih kurang sebatu dalam arah yang lain yang menentang arah sungai, beliau takkan dapat melakukan pendaratan sebegitu,” ulas Slader. “ Beliau takkan dapat meluncur ke sungai. Jadi, beliau melakukan kerja yang bagus, tetapi memang ada sedikit faktor nasib baik yang terlibat di situ. Perkara yang sama terjadi pada kami. Kami benar-benar bernasib baik.”
Segelintir dari pakar berasa resah pada hakikat bahawa juruterbang yang ada hari ini- dengan ketiadaan pengalaman ketenteraan, kecenderungan mereka untuk menghindar risiko, pergantungan mereka pada automasi- mungkin sekali kurang berupaya untuk bertindak mengikut budi bicara tanpa sebarang persiapan- sewaktu berlakunya kecemasan. Mereka mungkin sekali orang yang betul bagi menyediakan margin keselamatan yang terhebat dengan nombor yang terhebat. Dan di dalam mandala di mana 80,000 pesawat berlepas dan mendarat di AS setiap hari, mempunyai seangkatan juruterbang sebegitu memang munasabah. Namun, apa yang akan terjadi jika anda merupakan salah seorang dari mereka yang kurang bernasib baik, yang menaiki pesawat yang berada dalam masalah ? Dalam pesawat sedemikian rupa, amda mungkin menginginkan juruterbang yang pernah mengelakkan tembakan musuh dalam Perang Vietnam, juruterbang dari era juruterbang perwira. “ Saya tidak mencadangkan yang juruterbang muda atau juruterbang baru tak berupaya menangani situasi,” kata Jack Stephan. “ Tapi, apakah anda mahu anak anda berada dalam penerbangan sebegitu ?”
Pentingnya keupayaan seorang juruterbang untuk bertindak mengikut budi-bicara tanpa apa-apa persediaan dalam suasana cemas bukannya satu kerugian di pihak penumpang. Haynes, Fitch dan Slader semuanya masih saling berhubungan dengan segelintir daripada mangsa-mangsa yang terselamat. Mereka pernah makan malam bersama, melihat pertunjukan hiburan, hatta pergi menonton perlawanan sukan. Fitch mengatakan yang beliau mendapat kad Hari Natal dari sebuah keluarga yang bayi perempuan mereka terselamat dalam nahas penerbangan 232. Bayi tersebut telah berada dalam usia 20-an sekarang ini. “ Saya melihat budak itu membesar,” ujar Fitch. “ Anda tahu, ada suatu tanda ingatan yang tersisip di situ ( kad ), ‘Lihatlah dia, itulah nyawa yang pernah kau selamatkan.’ ”. Sungguh satu tanda ingatan yang manis, betapa mereka menghargai saya atas apa yang saya telah lakukan.”
Sepucuk surat yang ditulis oleh salah seorang penumpang buat Sully
David Sontag, seorang penulis skrip filem berusia 74 tahun yang menjadi professor, sedang terbang kembali menuju ke Carolina Utara dengan Penerbangan 1549 US Airways setelah menghadiri upacara pengebumian abangnya. Beliau yang duduk di kerusi 23F telah terdengar bunyi ‘bang’ seminit sejurus berlepas, dari sebelah belakang pesawat. Dari jendelanya beliau dapat melihat api yang marak keluar dari salah satu enjin pesawat. Lima minit kemudiannya aura ketakutan menyusuli : perlanggaran, pengosongan pesawat dan menanti untuk diselamatkan. Sebelum mereka ( Penerbangan 1549 ) terbentur ke permukaan air, beliau berdoa : “ Ya Tuhan, keluargaku tidak memerlukan dua kematian terjadi dalam seminggu.”
Minggu lepas, Sontag menulis surat buat Sully dan seisi krew yang ada. “ Saya cuba untuk menulis surat itu sebaik mungkin, secara khusus untuk mereka.” Kata beliau- sungguhpun surat tersebut ditulis untuk pramugari yang tidak pernah dilihatnya di bahagian hadapan. Dalam suratnya kepada Sully, beliau berkata, beliau mengucapkan terima kasih buat juruterbang yang bertugas “ Kerana kemahiran luar biasa dan fikiran jernihnya serta keputusan yang telah diambil, dan ketenangan bersama-sama profesionalisme yang dipamerkannya.” Beliau mengepilkan kata-kata yang diucapkannya sewaktu upacara pengebumian abangnya di New York : “ Kami meninggalkan sebahagian kecil dari diri kami kepada setiap orang yang pernah menyentuh hidup kami.” Semua krew, kata Sontag, “ …akan hidup bersama-sama mereka yang berada dalam penerbangan itu- dan sesiapa yang kami sentuh dengan hayat yang ada.”
Sontag percaya bahawa Sully melakukan satu perkara penting pada hari tersebut, yang menghalang penyebaran rasa panik : Sully tidak mengumumkan arahan ‘ Brace for impact’ santak ke waktu di mana arahan tersebut benar-benar perlu. “ Saya rasa beliau menunggu sebegitu lama ( untuk mengumumkannya ) untuk mencegah para penumpang dari menjadi tak keruan.”, ujar Sontag. “ Dengan menyatakan bahawa pesawat semakin hampir untuk terhempas, apa yang anda mampu lakukan adalah menundukkan kepala. Jika itu pilihannya, saya fikir satu pilihan yang bagus.”
Sudah tentu Sully juga barangkali terlalu sibuk meluncurkan pesawatnya di Sungai Hudson, bagi membuat para penumpang kekal tenang. Tetapi Sontag lebih senang untuk berfikir bahawa Sully sedang mengawal pesawat sepanjang waktu-hakikatnya memang pesawat itu benar-benar dalam kendalian Sully waktu itu. Kita semua juga berfikir hal yang sama. Bagi kebanyakan dari kita, rasa percaya akan si kapten merupakan satu-satunya sebab mengapa kita sanggup menaiki pesawat udara.
[1] Dialog yang diambil dari transkrip perbualan yang dirakamkan oleh kotak hitam ini membawa makna konotasi bahawa Kapten sedang memaklumkan kepada pegawai pertamanya- yang sedang menanggar amanat sebagai Pilot-On-Flying- untuk mengambil-alih tugas mengendalikan penerbangan pesawat
[2] Pegawai Pertama bersetuju untuk menyerahkan tugas menerbangkan pesawat kepada Kapten
[3] Simbol yang diambil oleh pengarang asal sebagai ikon penanda zaman bagi era juruterbang perwira.
[4] Simbol yang dipilih oleh penulis asal untuk menandakan era penguasaan syarikat penerbangan gergasi.
[5] Untuk mendapatkan kefahaman yang menepati kehendak makna perkataan ‘Koboi’ dalam teks asal, sila rujuk kertas kerja yang ditulis oleh Amy L. Fraher berjudul : ‘Training to be Selected’: Establishing the Case for a New Crew Resource Management Pedagogy yang boleh diakses di
http://www.ispso.org/Symposia/Baltimore/2005%20papers/2005Fraher.htm
[6] Bagi yang berminat untuk mengetahui dengan lebih lanjut, sila baca transkrip kotak hitam bagi insiden United Airlines 232 yang boleh diperolehi di laman web Aviation Safety Network. Anda akan mendapati Denny Fitch telah menyatakan hal tersebut dengan jelas pada Kapten Alfred Haynes lewat salah satu dialog beliau yang bersahaja lagi bernada kecindan.
DI BALIK PENGGARAPAN “ DI BALIK LEMBUT KERUDUNG DAN TEDUH WAJAHNYA” Mac 18, 2009
Posted by Ismi Nailofar in Uncategorized.3 comments
Oleh : Ismi’ Nailofar
( Gambar dari Majalah Tunas Cipta, Edisi Mac 2009 )
Alhamdulillah, cerpen Di Balik Lembut Kerudung Dan Teduh Wajahnya telah terbit dalam Tunas Cipta keluaran bulan ini. Penulis telah redha dengan apa yang ada di situ seusai membacanya.
Idea untuk menulis artikel ini sebenarnya sudah lama berbibit. Keinginan menelurkannya disemarakkan oleh kemunculan dua buah artikel yang menyusul setelah penulis menghantar draf cerpen kepada Bonda Ani. Pertama, artikel blog Istimewanya Wanita oleh Dr Mohd Azhar Mohd Sarip, gurulatih dan pakar Minda Super Sedar yang tak asing lagi buat pembaca Mingguan Wanita. Kedua, artikel di laman blog Kapten KH Lim- “ My Aircraft”- Why Sully Maybe The Last of His Kind ( bakal muncul terjemahannya di blog ini ). Namun penulis hanya menanggapi idea itu dengan bersikap, ‘ Tunggulah dulu, Tunas Cipta Mac 2009 belum sampai di tangan Penulis lagi. Baca dulu teks Di Balik Lembut Kerudung Dan Teduh Wajahnya, baru tulislah.’ Penulis kian diujakan untuk menulis artikel ini, setelah penulis diperkenalkan kepada saudara SM Zakir oleh Cikgu Ramlie Jusoh ( NYDP Badan Bahasa Sabah ) pada acara Malam Semarak Kebudayaan di Hotel Courtyard One Borneo sempena Persidangan Persuratan Dan Kebudayaan Kebangsaan ( yang berlangsung di Kota Kinabalu pada 6-8 Mac yang lalu ). Sekembalinya penulis dari majlis itu, idea yang terkepung bagai tidak sabar-sabar untuk dilepaskan, tetapi penulis tidak memiliki komputer bimbit sebagai rafik di sisi. Maka penulis bersabar sehingga tiba waktu untuk pulang ke rumah dan kembali menghadap komputer butut penulis.
Cerpen DBLKDTW merupakan cerpen kedua yang penulis hantar ke Tunas Cipta selepas Dari Rose Quartz Ke Cakna Cinta. Salah satu perbezaan yang wujud dalam cerpen ini berbanding cerpen DRQKCC adalah cerpen ini telah menerima ‘ujian asid’ dalam laman esastera.com terlebih dahulu. Dalam cerpen DBLKDTW, Penulis melanjutkan isu terdahulu dalam cerpen DRQKCC, tetapi dengan dimensi yang lebih luas dan menggunakan sudut pandangan seorang lelaki yang keperitan dek rasa cintanya yang tak berbalas.
Para pembaca yang pernah membaca DRQKCC, tetapi belum lagi membaca DBLKDTW, mungkin tertanya-tanya, tidak ada kisah lainkah yang mampu ditulis oleh Ismi’ Nailofar ini selain kisah cinta ?
Jika ada yang tertanya-tanya sebegitu, artikel ini tidak akan memberi jawapannya secara terus. Pertanyaan mereka hanya akan terjawab dengan sendirinya apabila membaca Tunas Cipta Mac 2009.
Seingat penulis, cerpen ini digarap ketika isu Abby Abadi-Norman Hakim-Memey masih hangat diperkatakan. Kebetulan, berapa lama sesudah menonton drama Jepun Attention Please, siri dokumentari Air Crash Investigation dan membaca resensi drama Charlie Victor Romeo, daya tujahan untuk menulis fragmen kehidupan seorang juruterbang komersil pun berbibit tapi idea untuk menujah penggarapannya masih kurang. Dan saya sudah bertahun-tahun berasa teruja untuk menulis kisah heroin Melayu/Bumiputera Baharu yang setara karismanya dengan watak Chang Jin dalam drama Dae Jang Geum : Jewel In The Palace atau watak Oshin dalam drama Jepun yang judulnya mengambil sempena namanya sendiri. Yang peliknya, idea untuk sebuah cerita tiba-tiba datang mencurah-curah gara-gara terdengar lagu Cinta dalam Hati yang merapung di corong radio.
Sekali imbas, isu-isu dalam cerita tersebut seperti tidak memiliki kesatuan antara satu dengan yang lainnya.
Isu pertama, isu wanita professional yang lambat berkahwin atas sebab krisis kepemimpinan lelaki akhir zaman. Isu perdana dalam cerpen DRQKCC.
Isu kedua, lelaki yang berpoligami ikut nafsu-nafsi melulu. Bila ditanya kenapa berpologami, jawapan mereka : “ Ikut sunnah.”. Kahwinnya sahajalah yang ikut sunnah, tapi urusan pentadbiran rumahtangganya, ya ampun, barangkali gaya orang Mormon mentadbir lebih baik lagi.
Isu ketiga, sikap tertutup terhadap juruterbang wanita.
Tapi tulis sahajalah dulu.
Kenapa penulis tetap meneruskan penulisan cerita yang datang sehingga ia menjadi cerpen DBLKDTW ?
Penulis melihat cerita itu mampu menjadi suatu jalan untuk meluahkan pendapat peribadi yang terpendam tentang ketiga-tiga isu tersebut. Penulis sedar, kisah cinta tak berbalas hanya platform penulis untuk membawa pembaca melihat pendapat tersebut. Watak Kapten Tajol dalam cerpen DBLKDTW sekadar sudut pandangan di mana cerita bergerak – cerita yang sebenarnya menampilkan Citra Femina sebagai watak utama di mana ketiga-tiga isu berputar-putar.
Penulis melihat isu pertama dan kedua sama seperti tukang cerita kisah benar di majalah isu-isu semasa wanita. Jadi, dalam artikel ini tumpuan penulis diberikan sepenuhnya untuk isu ketiga- pendapat peribadi yang serupa dengan kebanyakan artikel yang ditulis oleh pakar-pakar dunia penerbangan.
Dalam DBLKDTW, penulis berusaha menampilkan wanita yang mendepani persoalan seputar dunia penerbangan komersil ( Commercial Aviation )-Konflik gender serta jurang generasi yang wujud antara juruterbang komersil generasi baharu yang lahir dari latar belakang bukan tentera dan juruterbang generasi lama yang berlatar-belakangkan ketenteraan ( secara intuitif tetapi hanya penulis sedari kewajarannya selepas membaca artikel “ My Aircraft”- Why Sully Maybe The Last of His Kind ). Dalam era sebelum akhir tahun 1970-an, geladak penerbangan secara globalnya merupakan mandala yang diterajui sistem patriaki-feudal.
Patriaki kerana sikap tertutup terhadap kehadiran juruterbang wanita. Hal ini telah disebutkan dalam artikel tulisan Sergio Ortega yang telah penulis terjemahkan lewat artikel sebelum ini.
Feudal kerana pada era 60-an ke 1970-an, pesawat komersil secara majoritinya dikendalikan oleh juruterbang yang berlatarbelakangkan alam ketenteraan. Malah ada di antara mereka yang merupakan veteran perang besar dunia- Perang Dunia Kedua, Perang Korea, Perang Vietnam dan lain-lain lagi. Sistem tentera secara umumnya bersifat feudal ala Sang Sapurba-Demang Lebar Daun : ikut arahan ketua, jangan sekali-kali derhaka pada ketua; serta melatih orang-orang di dalamnya untuk menjadi pengambil risiko. Kapten Tajol merupakan perwakilan kepada kumpulan juruterbang yang datang dari latar belakang ini ( walaupun Penulis tidak perikan dalam cerpen ini, namun pembaca yang mempunyai ilmu bantu yang cukup akan mempunyai pandangan yang serupa dengan Penulis ) dan belum dapat beradaptasi sepenuhnya kepada sistem penerbangan awam yang sifatnya lebih mengutamakan musyawarah berbanding menjulang ego ketua.
Citra Femina bukan hanya simbol wanita, tetapi juga perwakilan bagi juruterbang komersil generasi baharu yang dilatih sepenuhnya di sekolah penerbangan awam yang menawarkan pakej kursus selama tiga ke empat tahun. Yang dilatih dengan gaya berfikir yang berbeza dari kaedah tentera yakni menghindarkan risiko yang tak perlu demi kepentingan umum.
Kapten Tajol dan Citra Femina dilihat sebagai dwikutub yang saling bertentangan. Tetapi akhirnya saling bersetuju apabila situasi kritikal memaksa Kapten Tajol untuk mengetepikan ego tinggi yang tidak ingin melihat wanita melebihi dirinya sendiri dalam sebarang aspek.
Bagaimana cerita dalam minda penulis menyatukan ketiga-tiga isu ?
Cerita dalam minda penulis merajut ketiga-tiga isu tadi dengan satu untaian hakikat yang satu dan terserlah secara subtle : Wanita wujud sebagai sebahagian dari diri lelaki yang hilang, jadi wanita wajar dimuliakan dan sebarang bakat dan kemahiran yang ada pada mereka dihargai sewajarnya. Justeru, lelaki yang memuliakan wanita, mulialah diri mereka sendiri dan begitu juga sebaliknya. Untaian hakikat yang sebenarnya tersisip halus dalam setiap karya yang pernah penulis hasilkan. Jalaluddin Rumi sendiri menyatakan wanita itu bukan hanya sekadar ciptaan Illahi, tetapi secercah cahaya Illahiah. Kata Dr Azhar Mohd Sarip, yang sudah tentu berasaskan ajaran Islam sendiri, yang terbaik diantara manusia ( baca : lelaki ) adalah yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap kaum wanita. Malangnya masih ada wanita yang dihinakan seperti yang banyak terjadi sejak dulu hingga kini ( Dan mudah-mudahan tidak untuk selama-lamanya ). Dengan menggunakan watak Kapten Tajol dan keadaan cintanya pada Citra Femina yang tidak berbalas demi menyampaikan hakikat yang satu itu, kesannya lebih mengugah fakulti minda, spiritual dan badaniah pembaca.
Nama Citra Femina sebagai protagonis cerpen sebenarnya punya sejarah sendiri. Semasa di kampus dahulu, penulis terlibat dengan aktiviti khas untuk siswi yang menyelitkan aksara Femina pada nama aktiviti tersebut- Dimensi Keunggulan Femina. Nama itu terus bermain-main dalam minda penulis sehingga ia ditujah untuk muncul sebagai nama protagonis. Dimensi Keunggulan Femina yang auranya terjelma dalam citra seorang juruterbang wanita.
Apapun, baca dahulu cerpen ini dan biarkan ia menggugah ketiga-tiga fakulti dalam diri anda lalu anda nilaikan sendiri seadil-adilnya.


















